https://conexus.co.id/index.php/media/view/60-Saatnya%20Pelajari%20Mandarin%20Sebagai%20Bahasa%20Masa%20Depan
Saatnya Pelajari Mandarin Sebagai Bahasa Masa Depan

Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang mesti dikuasai pekerja profesional. Namun, jika Anda ingin mengingkatkan kembali kemampuan bahasa Anda, cobalah mempelajari bahasa Mandarin.

Emily Oster, seorang professor dari Brown University, mengatakan, Mandarin adalah bahasa masa depan dunia.

“Mandarin adalah bahasa ibu dari 14% penduduk dunia, dan sebagian dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris,” ungkapnya.

Mandarin adalah bahasa yang digunakan lebih 1 miliyar orang. Selain itu, negara Tiongkok juga diprediksi akan menjadi negara superpower dalam perekonomian pada 2020.

Berbahasa Mandarin juga dapat meningkatkan nilai jual seorang pekerja di mata perusahaan. Berdasarkan hasil riset, rasio perusahaan yang menginginkan pekerja berbahasa Mandarin meningkat hingga 35 persen.

Robert DeKeyser, seorang profesor bidang bahasa kedua, mengatakan, seorang dewasa tidak bisa belajar bahasa kedua layaknya anak-anak.

“Anak-anak bisa memahami garis besar bahasa tanpa perlu mengetahui aturannya. Sebaliknya, orang dewasa mesti belajar aturannya terlebih dahulu sebelum mempelajari seluruh bahasa,” ungkapnya.

Melansir PortalHR.com, rupanya perusahaan di China tidak mensyaratkan karyawannya bisa berbahasa Mandarin dengan lancar. Beberapa perusahaan China justru mencari karyawan yang memiliki ragam pendidikan dan pengalaman. Dan, akan menjadi nilai plus jika memiliki pengalaman di perusahaan multinasional.

Cari Tahu Tentang Daniel Zhang: Sosok Pengganti Jack Ma di Alibaba

Pada 10 September 2018, Jack Ma, CEO Alibaba Group, telah menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya. Jack Ma memang sudah mengungkapkan akan mundur dari kepemimpinan E Commerce raksasa dari Cina itu pada September 2019 nanti.

Pria yang ditunjuk Jack Ma bernama Daniel Zhang. Kini, Zhang akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan bernilai US$418 miliar.

Daniel Zhang telah bergabung di Alibaba sejak tahun 2007 dan telah menjadi CEO sejak 2015.

Ternyata, para karyawan di Alibaba memiliki julukan pada rekannya sesuai dengan tokoh fiksi cerita Tiongkok. Tak terkecuali Daniel, ia mendapatkan julukan Xiaoyao zi, seorang lelaki tangguh pemimpin kelompok Xiaoyao.

“Daya analisis Zhang tak tertandingi. Ia pun memegang teguh misi dan visi perusahaan, serta memikul tanggung jawab dengan penuh semangat. Selain itu, ia juga mempunyai keberanian berinovasi dan menguji coba berbagai model bisnis baru.” Ungkap Ma.

Sebelum bergabung dengan Alibaba, Daniel Zhang merupakan Chief Financial Officer (CFO) Shanda Interactive. Perusahaan itu merupakan penguasa industri game di China. Selain itu, ia merupakan mantan manajer senior di perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC).

Zhang juga merupakan orang yang mengembangkan bisnis TMall, marketplace yang fokus menjual barang-barang bermerek. Model bisnis itu memang berseberangan dengan Taobao milik Alibaba, yang dipersepsikan banyak menjual barang palsu.

Zhang juga merupakan sosok penting di balik kampanye belanja tahunan “Singles’ Day” yang jatuh pada 11 November.

Pada tahun 2010, Zhang juga memimpin transformasi TMall dari perangkat PC ke perangkat mobile. Pada 2015, ia juga menjadi tokoh kunci pengembangan Hema, supermarket milik Alibaba.

Sumber foto: Alzila.com

Baca
Prinsip 5W 1H Bagi Manajer untuk Menyampaikan Berita Buruk

Seorang manajer memiliki tugas berat dalam menjaga motivasi timnya. Tekadang, manajer bukan hanya harus menyampaikan berita baik, tetapi juga berita buruk.

Dalam menyampaikan berita buruk, seorang manajer harus mampu menjaga timnya agar tetap termotivasi.

Tak jarang, seorang manajer mesti menyampaikan keputusan permberhentian karyawan. Pada kondisi seperti itu, ia mesti cermat dalam menyampaikan kabar agar tidak menyakiti karyawannya.

Melansir tulisan PortalHR.com, dalam menyampaikan berita buruk, seorang manajer idealnya bisa menerapkan prinsip 5W + 1H.

Prinsip 5W + 1H sebenarnya adalah prinsip yang digunakan oleh jurnalis dalam membuat berita. Namun, rupanya prinsip tersebut bisa diterapkan dalam konteks apa pun, termasuk penyampaian kabar buruk.

Pertama, W atau Who. Seorang manajer adalah penyampai pesan itu sendiri. Ada baiknya, ia tidak menggunakan pihak lain dalam menyampaikan pesan, sebab memberi kesan tidak menghargai bagi karyawan.

Kedua, W atau What. Pesan harus disampaikan dengan jelas. Jangan menimbulkan persepsi beragam dalam pesan yang disampaikan. Perhatikan pula gestur dalam penyampaian pesan. Gestur yang baik akan menunjukkan empati seseorang dalam sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan.

Ketiga, W atau Where. Lokasi penyampaian pesan juga sangat berpengaruh dalam memberikan kabar buruk. Hindari menyampaikan pesan melalui email atau telepon. Jauh lebih baik komunikasi dilakukan secara langsung melalui tatap muka.

Keempat, W atau When. Waktu yang tepat adalah kunci dari keberhasilan penyampaian pesan. Hindari waktu pagi hari, atau hari di mana karyawan mendapatkan kabar buruk. Seorang manajer juga bisa bertanya pada rekan karyawan tersebut kapan waktu yang tepat.

Kelima, W atau Why. Jangan lupa berikan alasan yang paling bisa diterima. Jangan menyampaikan alasan klise yang justru bisa menimbulkan ragam persepsi.

Keenam, H atau How. Pilih setiap kata dengan cermat dan bijak. Cara penyampaian bisa disesuaikan dengan karakteristik karyawan bersangkutan atau kedekatan antara seorang manajer dengan karyawan tersebut.

Baca
Inilah Ragam Pilhan Jenis Kopi untuk Ragam Profesi

Kopi sudah menjadi kebutuhan keseharian para pekerja. Tak hanya untuk mengusir kantuk, kopi juga bisa menunjang produktivitas seseorang.

CareerBuilder bersama Harris Interactive pernah mengadakan survei perihal kebiasaan minum kopi para pekerja. Survei tersebut dilakukan terhadap 4.721 pekerja di Amerika dan kemudian dituangkan dalam bentuk infografis.

Berdasarkan survei, kopi tidak hanya dapat membantu seseorang terjaga, tetapi juga memberikan kesempatan lebih mudah bersosialisasi dan mendapatkan perhatian klien.

Menariknya, sebanyak 16 persen responden mengatakan paling membutuhkan kopi pada hari Senin. Dan, sebanyak 32 persen mengatakan membutuhkan kopi untuk melewatkan hari kerja.

Dari hasil riset juga diketahui, sebanyak 28 persen pekerja mengkonsumsi lebih 3 cangkir kopi per hari. Sedangkan 61 persen mengkonsumsi lebih 2 cangkir kopi per hari.

Jenis kopi yang dipilih pun berbeda pada setiap profesi. Rupanya, kopi hitam lebih disukai para pekerja hotel, pengacara, dan mereka yang bekerja di pengadilan. Sementara praktisi HR lebih menyukai kopi dengan susu. Lalu, kopi hitam dengan rasa lebih disukai penulis, pekerja pemerintahan, dan guru.

Beragam profesi pun berpendapat bahwa mereka menjadi kurang produktif tanpa kopi. Mereka adalah peneliti, marketing dan PR, administrasi pendidikan, penyunting dan penulis, psikolog, profesor, praktisi HR, pekerja sosial, dan perawat.

Lalu, apa yang mereka dapatkan dari kopi?

Ternyata, 20 persen membutuhkan kopi untuk bersosialisasi, 12 persen untuk bisa lebih fokus bekerja, 10 persen untuk memberikan tambahan energy ketika presentasi, 5 persen untuk lebih disukai klien, dan 3 persen untuk membantu memompa performa mereka ketika wawancara kerja.

Baca
Inilah Negara yang Para Pekerjanya Paling Kurang Berlibur

Setiap orang membutuhkan liburan. Apalagi bagi mereka yang menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja di kantor.

Menurut hasil penelitian, liburan wajib dilakukan oleh para pekerja. Sebab faktanya, banyak pegawai yang meningkat produktivitasnya usai berlibur.

Mengutip Lifehack.org, liburan nyatanya dapat mengembalikan fungsi jantung dan tekanan darah dalam keadaan normal.

Tahukah Anda, karyawan di negara mana yang kurang berlibur? Jika Anda berpikir Jepang, maka tebakan Anda tidak tepat.

Expedia, salah satu situs perjalanan terbesar di dunia pernah melakukan studi. Studi tersebut dilakukan terhadap 9.273 pekerja dari 26 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Ternyata, para pekerja di Korea Selatan hanya memanfaatkan 6 hari dari 15 hari jatah libur. Sedangkan Jepang memanfaatkan 12 hari dari 20 hari jatah libur.

Secara Global, rata-rata pekerja mendapatkan kurang dari 25 hari jatah libur termasuk hari libur nasional. Dari jumlah tersebut rata-rata hanya memanfaatkan 2 persen saja.

Fakta lainnya, rata-rata pekerja di Eropa justru memanfaatkan dengan baik jatah liburnya, seperti Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Swedia, Denmark, dan Finlandia.

Dalam pandangan para pekerja secara global, sebanyak 19 persen mereka sengaja menabung hari libur mereka. Dan, dengan persentase yang sama, mereka mengatakan terlalu sibuk untuk mengambil hari libur.

Kemudian, sebanyak 17 persen mengatakan mereka mengalami masalah keuangan untuk berlibur. Lalu, sebanyak 7 persen mengatakan takut dicap negatif oleh perusahaan ketika mengambil libur.

John Morrey, Vice President Expedia.com, mengatakan, sebagian pekerja merasa baik-baik saja mengambil hak libur, sementara sebagian lagi justru merasa bersalah.

“Padahl work-life balance adalah hal yang penting. Tidak hanya memberi kesempatan pekerja menikmati kehidupan di luar kantor, namun juga mengisi ulang energi agar dapat lebih produktif ketika bekerja,” ungkapnya.

Baca
Prokrastinasi VS Prekrastinasi

Prokrastinasi merupakan istilah populer bagi mereka yang suka menunda pekerjaan. Istilah ini merupakan serapan dari bahasa latin “pro” yang artinya maju, dan “crastinus” yang artinya besok.

Berbeda dengan prokrastinasi, prekrastinasi adalah pola kerja yang dilakukan di awal. Mereka, prektastinator, tidak menyukai bekerja dengan sistem kebut semalam.

Namun, jangan terburu-buru melihat bahwa prekrastinasi jauh lebih baik dari prokrastinasi. Sebab nyatanya, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Adam Grant, penulis artikel “Why I Taught Myself to Procrastinate”, justru memiliki kebiasaan untuk menunda mengerjakan tulisannya. Tiga minggu kemudian, ia baru melanjutkannya kembali.

Ternyata, dalam penulisan, jeda waktu yang diberikan Grant justru memberinya sudut pandang dan nuansa baru. Jadi, dalam hal ini prokrastinasi membantunya menghasilkan ide lebih cemerlang.

Prekrastinasi tidak selalu membawa dampak baik. Salah satu murid Grant, Jihae Shin, seorang professor di University of Wisconsin, meminta partisipan untuk menciptakan ide bisnis.

Beberapa partisipan langsung menuliskan ide bisnis mereka, sedangkan beberapa lagi justru memilih bermain game.

Hasilnya mengejutkan. Mereka yang lebih dulu bermain game justru memiliki ide bisnis yang lebih kreatif 28 persen.

Pada dasarnya, menunda atau langsung mengerjakan pekerjaan tergantung masing-masing individu. Prokrastinasi baik dilakukan, asalkan tidak membuat pekerjaan menjadi terburu-buru dan tidak teliti.

Baca
Change Fatigue pada Karyawan dan Cara Mengatasinya

Peningkatan performa perusahaan adalah salah satu faktor utama peningkatan revenue perusahaan. Namun, sering kali karyawan justru sulit menunjukkan performa terbaiknya seiring tekanan yang semakin meningkat.

Seiring perubahan zaman, banyak penyakit bermunculan pada karyawan, salah satunya adalah change fatigue. Penyakit ini disebabkan oleh ketidakmampuan karyawan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Dari hasil survei yang dikutip  PortalHR, dampak miris dari penyakit ini adalah 41% karyawan kelelahan dengan perubahan yang terjadi, dan 35% memilih tetap bertahan sebab tidak ada pilihan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Towers Watson mengadakan penelitian yang melibatkan 30 partisipan dari berbagai negara. Hasilnya, ada beberapa solusi yang diterapkan oleh organisasi, yakni peningkatan gaji, bonus, dan jenjang karier. Namun, masalahnya perusahaan tidak mampu mengakomodir seluruhnya.

Menurut Jennifer Frei, Direktur Asia Pasific Practice, perusahaan dapat menerapkan korelasi yang baik antara departemen HR dan marketing. Ia mengatakan, sales pun dapat bekerja baik apabila budaya perusahaan mampu mendorong produktivitasnya.

Jennifer lebih jauh menjelaskan, prinisp terbaiknya adalah measures should drive focus and carry a meaningful reward for performance. Ia berpendapat, ambang batas kinerja sales setiap industri berbeda-beda.

Faktor-faktor dominan dalam organisasi dapat mengukur performa terbaik, seperti kemampuan menjual. Dengan penghargaan (reward) dalam penjualan, akan merangsang kemampuan negosiasi sales. Jenis-jenis komisi atau insentif target juga dapat menjadi alternatif. Namun, pastikan strategi ini dapat teraplikasi secara optimal.

Baca