Kata Siapa Generasi Milenial Pemalas?
Back

Kata Siapa Generasi Milenial Pemalas?

Banyak perdebatan mengenai generasi milenial. Asumsi-asumsi negatif mengenai generasi ini pun berkembang di kalangan pelaku bisnis. Bahkan, generasi ini disudutkan dengan cap sebagai generasi pemalas.

Pada dasarnya, perbedaan zaman pada setiap generasi menghasilkan sifat dan perilaku yang beragam. Tantangan, perkembangan teknologi dan budaya, membuat setiap generasi memiliki keunggulan yang berbeda.

Menurut Lifehack, sebenarnya generasi milenial bukanlah generasi pemalas. Setidaknya, lanjut mereka, ada empat hal yang membuat mereka terlihat sebagai pemalas.

Pertama, generasi milenial tidak menyukai sistem tradisional atau kuno. Bagi mereka, aturan soal pakaian, kehadiran di kantor, atau denda keterlambatan merupakan aturan yang tidak efisien. Mereka tidak menyukai pekerjaan yang penuh aturan. Mereka beranggapan, jauh lebih baik mengerjakan sesuatu dengan waktu minimal namun menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Kedua, generasi milenial lebih menyukai manfaat yang tidak terlihat, seperti waktu istirahat. Mereka, yang terbiasa dengan teknologi dan internet, bisa mencari banyak informasi tentang perusahaan sebelum melamar. Bagi generasi ini, manfaat tak kasat mata, seperti budaya kerja, birokrasi yang mudah, lokasi strategis, serta keberadaan kedai kopi adalah pertimbangan penting. Itulah sebabnya, mereka terlihat pemilih dalam bekerja sehingga pada waktu yang bersamaan mereka dicap sebagai pemalas.

Ketiga, generasi milenial menyukai transparansi. Bagi mereka, perintah untuk mengerjakan sesuatu mesti disertai alasan dan tujuan yang logis. Maka, selama atasan dapat memberikan kebutuhan itu, generasi milenial akan mengerjakan perintah dengan maksimal. Tapi sayangnya, pemahaman soal ini terkadang tidak dimiliki oleh atasan mereka, sehingga ketika generasi milenial mengabaikan pekerjaan, mereka langsung dianggap pemalas.

Keempat, generasi milenial suka belajar dari pengalaman. Tidak seperti generasi pendahulunya, generasi milenial lebih ambisius dan pantang menyerah. Mereka suka menggali dan mendapatkan pengalaman baru dalam kehidupan serta pekerjaan. Tak heran, mereka mudah sekali berpindah kantor jika merasa tidak ada lagi tantangan. Namun, sayangnya kesimpulan dari perilaku ini selalu saja berkonotasi negatif. Perusahaan menganggap, alasan generasi milenial keluar adalah karena tidak kuat menghadapi beban kerja dan iklim kompetitif. Padahal, yang terjadi adalah mereka tidak lagi merasa tertantang.

Jadi, untuk mengoptimalkan generasi milenial, perusahaan mesti memiliki strategi khusus dengan mempertimbangkan karakteristik mereka. Dengan begitu, pada masa mendatang, di mana generasi milenial mendominasi generasi produktif, perusahaan bisa berkembang cukup pesat ke arah yang lebih baik.

Comments (0)
Berikan Komentar Anda