Startup Harus Pertimbangkan 5 Hal Ini Saat Memilih Kantor

Tren pertumbuhan startup semakin marak di dunia. Bahkan, menurut laporan startup ranking, Indonesia menempati posisi kelima dalam pertumbuhan startup. Tercatat, Indonesia memiliki sekitar 1.705 startup, itu artinya Indonesia berada urutan keempat di bawah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713, dan Inggris 2.971.

Indonesia memiliki jumlah startup yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Misalnya, Singapura 508, Filipina 193, Malaysia 144, Thailand 81, Vietnam 73.

Kabar baik berikutnya, ada tujuh startup yang sudah berstatus unicorn, yakni startup yang memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk startup adalah pilihan kantor. Faktanya, menurut hasil sejumlah riset, kantor sangat berpengaruh terhadap produktvitas karyawan. Namun, setiap startup juga mesti memiliki pertimbangan dalam memilih kantor agar mendapatkan kantor yang ideal. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada 5 pertimbangan yang bisa diambil sebagai berikut:

Anggaran

Tentu saja, setiap startup selalu ingin mengacu pada Google dalam memilih kantor. Hanya saja, pilihan yang tidak mempertimbangkan anggaran justru akan membuat perusahaan gulung tikar. Jangan tergoda membeli atau menyewa kantor mewah, sebab tentu saja, di luar biaya property, masih ada biaya renovasi dan pemeliharaan yang mesti dikeluarkan. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan agen properti dalam memilih kantor.

Analisis Pertumbuhan Perusahaan

Ketika perusahaan mulai tumbuh, jangan dulu gegabah berpindah kantor yang lebih besar. Analisis secara teliti tim mana saja yang akan mengalami pertumbuhan pesat. Jadi, jauh lebih baik memilih kantor sesuai kebutuhan. Artinya, jangan pilih kantor yang terlalu besar atau bahkan yang terlalu kecil.

Lokasi Strategis

Lokasi strategis bukan berarti artinya berada di tengah kota. Lokasi strategis dipengaruhi oleh letak atau jarak dengan kantor klien serta jarak dengan domisili rata-rata karyawan. Faktanya, salah satu faktor alasan karyawan mengundurkan diri adalah lokasi tempat kerjanya. Maka, buatlah pilihan bijak ketika memutuskan pindah kantor dengan lebih dulu berkonsultasi kepada karyawan.

Akses Fasilitas

Pastikan kantor Anda berlokasi tidak jauh dari fasilitas yang dibutuhkan oleh karyawan. Misalnya, dekat dengan rumah sakit, bank, transportasi, tempat ibadah, dan lain-lain. Bayangkan, jika seorang karyawan membutuhkan aktivitas perbankan di bank dan lokasinya sangat jauh, tentu hal itu akan terpaksa mengurangi jam produktifnya.

Office Branding

Sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh, tentu sangat penting untuk membangun reputasi di mata klien. Dan, pembangunan reputasi ini mesti sejalan dengan arah bisnis perusahaan. Misalnya, perusahaan agensi periklanan mesti mendekorasi kantornya jauh dari kesan kaku sebab klien yang datang ke sana pasti membutuhkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.

Baca
Alasan Kenapa Generasi Milenial Malas Bekerja di Kantor

Pada 2020, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi berupa peningkatan kelompok kerja produktif yang didominasi generasi milenial. Maka, penting bagi perusahaan untuk memahami generasi ini untuk memenangkan persaingan mendapatkan kandidat.

Generasi milenial adalah mereka yang saat ini rata-rata berusia sekitar 21-29 tahun. Mereka adalah anak-anak muda yang akrab dengan teknologi komunikasi instan, seperti SMS, email, dan media sosial.

Interaksi sosial yang tanpa batas melalui internet, membuat generasi ini lebih berani berbicara daripada generasi sebelumnya. Mereka fleksibel, serta tidak berorientasi materi. Yang terpenting bagi mereka adalah solidaritas, kebersamaan, eksistensi, dan fasilitas.

Namun, generasi milenial memiliki kecenderungan malas bekerja di kantor. Berikut alasan mengapa generasi milenial malas bekerja di kantor.

Mereka Menganggap Sistem Kerja Tradisional Tidak Menarik

Sistem kerja yang dominan saat ini menuntut karyawan untuk bekerja minimal 8 jam selama lima hari di kantor. Selain itu, keterlambatan atau ketidakhadiran tentu saja membawa dampak pemotongan uang kehadiran. Bagi generasi milenial, sistem kerja usang seperti itu sangat tidak menarik. Belum lagi, mereka dituntut untuk berseragam dan tidak bisa mengekspresikan gaya masing-masing. Bagi generasi milenial, sesuatu yang tidak substansial dan efisien tidak terlalu penting untuk dilakukan. Itulah kenapa banyak perusahaan startup, saat ini, memberikan aturan fleksibel khususnya dari segi kehadiran dan gaya berpakaian. Mereka menyadari bahwa lebih penting melihat produktivitas dibanding aturan-aturan yang menghambat performa karyawan.

banner_artikel

Mereka Fokus pada Passion Dibandingkan Uang

Bagi generasi milenial, uang bukanlah segalanya. Dalam mencari pekerjaan, misalnya, mereka juga mempertimbangkan passion serta bagaimana perusahaan bisa membuat mereka berkembang. Tak heran, mereka lebih suka pada perusahaan yang memiliki budaya dinamis. Apalagi, jika perusahaan tersebut memiliki ruang kantor yang bagus dan bisa dipamerkan di media sosial.

Mereka Mementingkan Work-Life Balance

Generasi milenial menganggap pekerjaan bukanlah segalanya. Hal ini disebabkan mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan berinteraksi bersama teman, keluarga, atau melakukan hobi. Bagi mereka, kualitas hidup dan pekerjaan harus sama baiknya. Tak heran, mereka lebih tertarik membangun bisnis sendiri atau bekerja di bidang lifestyle.

Mereka Menginginkan Ruang Bebas

Dengan akses informasi yang luas, pikiran milenial jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka bukan tipe orang yang hanya mengangguk apabila mendapatkan perintah. Bagi mereka, mesti ada alasan yang jelas dalam melakukan sesuatu sehingga bisa memicu semangat mereka. Sifat kritis inilah yang membuat mereka membutuhkan ruang bebas yang tidak terikat pada perintah atasan.

Baca
Alasan Kenapa Generasi Milenial Malas Bekerja di Kantor

Pada 2020, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi berupa peningkatan kelompok kerja produktif yang didominasi generasi milenial. Maka, penting bagi perusahaan untuk memahami generasi ini untuk memenangkan persaingan mendapatkan kandidat.

Generasi milenial adalah mereka yang saat ini rata-rata berusia sekitar 21-29 tahun. Mereka adalah anak-anak muda yang akrab dengan teknologi komunikasi instan, seperti SMS, email, dan media sosial.

Interaksi sosial yang tanpa batas melalui internet, membuat generasi ini lebih berani berbicara daripada generasi sebelumnya. Mereka fleksibel, serta tidak berorientasi materi. Yang terpenting bagi mereka adalah solidaritas, kebersamaan, eksistensi, dan fasilitas.

Namun, generasi milenial memiliki kecenderungan malas bekerja di kantor. Berikut alasan mengapa generasi milenial malas bekerja di kantor.

Mereka Menganggap Sistem Kerja Tradisional Tidak Menarik

Sistem kerja yang dominan saat ini menuntut karyawan untuk bekerja minimal 8 jam selama lima hari di kantor. Selain itu, keterlambatan atau ketidakhadiran tentu saja membawa dampak pemotongan uang kehadiran. Bagi generasi milenial, sistem kerja usang seperti itu sangat tidak menarik. Belum lagi, mereka dituntut untuk berseragam dan tidak bisa mengekspresikan gaya masing-masing. Bagi generasi milenial, sesuatu yang tidak substansial dan efisien tidak terlalu penting untuk dilakukan. Itulah kenapa banyak perusahaan startup, saat ini, memberikan aturan fleksibel khususnya dari segi kehadiran dan gaya berpakaian. Mereka menyadari bahwa lebih penting melihat produktivitas dibanding aturan-aturan yang menghambat performa karyawan.

Mereka Fokus pada Passion Dibandingkan Uang

Bagi generasi milenial, uang bukanlah segalanya. Dalam mencari pekerjaan, misalnya, mereka juga mempertimbangkan passion serta bagaimana perusahaan bisa membuat mereka berkembang. Tak heran, mereka lebih suka pada perusahaan yang memiliki budaya dinamis. Apalagi, jika perusahaan tersebut memiliki ruang kantor yang bagus dan bisa dipamerkan di media sosial.

Mereka Mementingkan Work-Life Balance

Generasi milenial menganggap pekerjaan bukanlah segalanya. Hal ini disebabkan mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan berinteraksi bersama teman, keluarga, atau melakukan hobi. Bagi mereka, kualitas hidup dan pekerjaan harus sama baiknya. Tak heran, mereka lebih tertarik membangun bisnis sendiri atau bekerja di bidang lifestyle.

Mereka Menginginkan Ruang Bebas

Dengan akses informasi yang luas, pikiran milenial jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka bukan tipe orang yang hanya mengangguk apabila mendapatkan perintah. Bagi mereka, mesti ada alasan yang jelas dalam melakukan sesuatu sehingga bisa memicu semangat mereka. Sifat kritis inilah yang membuat mereka membutuhkan ruang bebas yang tidak terikat pada perintah atasan.

Baca
Startup Harus Pertimbangkan 5 Hal Ini Saat Memilih Kantor

Tren pertumbuhan startupsemakin marak di dunia. Bahkan, menurut laporan startup ranking, Indonesia menempati posisi kelima dalam pertumbuhan startup. Tercatat, Indonesia memiliki sekitar 1.705 startup, itu artinya Indonesia berada urutan keempat di bawah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713, dan Inggris 2.971.

Indonesia memiliki jumlah startup yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Misalnya, Singapura 508, Filipina 193, Malaysia 144, Thailand 81, Vietnam 73.

Kabar baik berikutnya, ada tujuh startupyang sudah berstatus unicorn, yakni startupyang memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk startupadalah pilihan kantor. Faktanya, menurut hasil sejumlah riset, kantor sangat berpengaruh terhadap produktvitas karyawan. Namun, setiap startupjuga mesti memiliki pertimbangan dalam memilih kantor agar mendapatkan kantor yang ideal. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada 5 pertimbangan yang bisa diambil sebagai berikut:

Anggaran

Tentu saja, setiap startupselalu ingin mengacu pada Google dalam memilih kantor. Hanya saja, pilihan yang tidak mempertimbangkan anggaran justru akan membuat perusahaan gulung tikar. Jangan tergoda membeli atau menyewa kantor mewah, sebab tentu saja, di luar biaya property, masih ada biaya renovasi dan pemeliharaan yang mesti dikeluarkan. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan agen properti dalam memilih kantor.

Analisis Pertumbuhan Perusahaan

Ketika perusahaan mulai tumbuh, jangan dulu gegabah berpindah kantor yang lebih besar. Analisis secara teliti tim mana saja yang akan mengalami pertumbuhan pesat. Jadi, jauh lebih baik memilih kantor sesuai kebutuhan. Artinya, jangan pilih kantor yang terlalu besar atau bahkan yang terlalu kecil.

Lokasi Strategis

Lokasi strategis bukan berarti artinya berada di tengah kota. Lokasi strategis dipengaruhi oleh letak atau jarak dengan kantor klien serta jarak dengan domisili rata-rata karyawan. Faktanya, salah satu faktor alasan karyawan mengundurkan diri adalah lokasi tempat kerjanya. Maka, buatlah pilihan bijak ketika memutuskan pindah kantor dengan lebih dulu berkonsultasi kepada karyawan.

Akses Fasilitas

Pastikan kantor Anda berlokasi tidak jauh dari fasilitas yang dibutuhkan oleh karyawan. Misalnya, dekat dengan rumah sakit, bank, transportasi, tempat ibadah, dan lain-lain. Bayangkan, jika seorang karyawan membutuhkan aktivitas perbankan di bank dan lokasinya sangat jauh, tentu hal itu akan terpaksa mengurangi jam produktifnya.

Office Branding

Sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh, tentu sangat penting untuk membangun reputasi di mata klien. Dan, pembangunan reputasi ini mesti sejalan dengan arah bisnis perusahaan. Misalnya, perusahaan agensi periklanan mesti mendekorasi kantornya jauh dari kesan kaku sebab klien yang datang ke sana pasti membutuhkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.

Baca
Inilah Kombinasi Warna yang Tepat untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Kantor ideal harusnya bisa menjadi ‘rumah kedua’ bagi karyawan. Tak heran, banyak perusahaan sekarang mempersiapkan kantornya sedemikian rupa guna membuat karyawan betah dan produktif.

Pemilihan warna tidak bisa dipisahkan dari dekorasi. Secara psikologis, pemilihan warna bukanlah persoalan kenyamanan visual dan estetika semata, melainkan sangat berdampak pada pembangunan suasana kantor. Berikut pengaruh warna dalam membangun suasana kantor.

Lebih Energik dengan Merah dan Oranye

Elizabeth Brown, pendiri EB Color Consulting yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat, mengatakan, warna merah dan oranye dapat menciptakan suasana energik. Namun, ia menambahkan, jangan terlalu banyak memasukkan warna merah sebab bisa memicu agresi dan stres.

Leslie Harrington, Exevutive Director sebuah perusahaan konsultan warna di Amerika, lebih jauh menjelaskan, sebaiknya warna merah ditempatkan di ruang-ruang di mana karyawan menghabiskan sedikit waktu. Misalnya, kamar mandi, dapur, atau tempat di mana karyawan tidak bekerja.

Beri Rasa Bahagia dengan Kuning

Secara psikologis, warna kuning bisa menciptakan rasa bahagia. Namun, menempatkan warna kuning di seluruh ruangan dan dekorasi justru akan merusak mood seseorang. Secara psikologis, warna kuning berkaitan erat dengan rasa percaya diri dan keceriaan. Maka, sebaiknya warna ini diterapkan di furnitur kantor seperti, misalnya, kursi. Dan, menurut saran Mark Woodman, Ketua Color Marketing Group, pilih warna kelam, seperti biru muda sebagai kombinasi warna kuning.

Tingkatkan Kreativitas dengan Biru dan Hijau

Warna alam, seperti hijau dan biru, akan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi, jika Anda menempatkan warna hijau alami seperti pada tanaman. Bahkan Personality and Social Psychology Bulletin, pada 2012, melakukan penelitan terhadap dampak warna hijau. Hasilnya, peserta yang biasa melihat warna hijau menunjukkan kreativitas dan produktivitas yang lebih dibandingkan mereka yang tidak.

Redakan Stres dengan Warna Pastel

Warna-warna muda ini sebaiknya ambil bagian pada dekorasi kantor. Warna seperti peach akan memberikan ketenangan dan meredakan stress karyawan. Buatlah warna pastel sebagai komposisi warna dinding secara seimbang. Jangan buat terlalu banyak kontras karena itu justru akan membuat mata lelah.

Baca
Inilah Aturan Ketersediaan Toilet di Perusahaan yang Wajib HR Tahu

Sudah sepatutnya perusahaan mengakomodir kebutuhan dasar karyawannya, termasuk kesehatan dan kenyamanan dalam bekerja.

Salah satu yang penting perusahaan pikirkan adalah rasio jumlah toilet. Banyak yang HR yang tidak tahu bahwa rasio jumlah toilet ada aturannya.

PortalHR pernah menulis perihal aturan ini. Mengutip HR Manager PT Richtex Garmindo, Athanasius Sumardi, “Sudah saatnya isu (rasio jumlah toilet dengan jumlah karyawan) ini diangkat. Karena selama ini yang dipersoalkan selalu soal upah. Menurut saya jika karyawan sudah merasa comfort (nyaman) dengan tempat kerjanya, dan kesehatan mereka lebih diperhatikan, hal lain bisa dibicarakan dengan kepala yang lebih dingin,” tuturnya.

Menurut Athanasius, jumlah toilet sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Bayangkan, berapa banyak waktu terbuang ketika karyawan mengantre untuk ke toilet.

Selain itu, menahan kebutuhan ke toilet lantaran malas antre atau toilet jorok akan menimbulkan masalah kesehatan.

“Karena menahan hasrat untuk ke toilet bisa berdampak pada kesehatan, yaitu menyebabkan sembelit, sakit ginjal, dan sebagainya. Lalu kaitannya dengan HAM, bahwa karyawan harus memperoleh fasilitas yang layak untuk kesehatannya,” paparnya.

Rasio jumlah toilet dan karyawan harus benar-benar dipikirkan. Yuwono Wadiasta, HR Corporate Manager PT Mega International Corporation, mengatakan, perusahaan minimal harus menyediakan toilet dengan perbandingan 1:15.

Pada dasarnya, soal toilet sudah diatur pada Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja.

Aturan dijelaskan pada pasal 6 yang di tiap butir  ayatnya berbunyi, (1) Kakus-kakus yang terbuat dari bahan yang kuat harus disediakan untuk kaum buruh. (2) Kakus-kakus tersebut harus terpisah untuk laki-laki dan perempuan sehingga tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesusilaan. (3) Kakus-kakus itu tidak boleh berhubungan langsung dengan tempat kerja dan letaknya harus dinyatakan dengan jelas. (4) Kakus-kakus itu selalu dibersihkan oleh pegawai-pegawai tertentu. (5) Kakus-kakus harus mendapat penerangan yang cukup dan pertukaran udara yang baik. Kemudian pada ayat (6) Jumlah kakus adalah sebagai berikut: untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus, 16 – 30 = 2 kakus, 31 – 45 = 3 kakus, 46 – 60 = 4 kakus, 61 – 80 = 5 kakus, 61 – 100 = 6 kakus dan untuk selanjutnya untuk tiap 100 orang buruh harus disediakan minimal enam kakus.

Athanasius melanjutkan, regulasi tersebut masih sering diabaikan perusahaan. Ia berpendapat, hanya beberapa perusahaan tertentu saja yang menerapkannya. Misalnya perusahaan asing.

“Meskipun tidak 100 % sesuai dengan persyaratan undang-undang, itu pun karena semata-mata untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh pihak auditor dari buyer, dan bukan karena kesadaran dan kepedulian dari pihak perusahaan terhadap karyawannya,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Athanasius, kendala perusahaan belum menerapkan aturan ini adalah karena ketersediaan lahan, biaya perawatan dan pemeliharaan, dan lain-lain. Bahkan di sebuah pabrik, ia pernah menemukan jumlah toilet dengan rasio 1:40.

Baca
Kapan Waktu yang Tepat Melanggar Aturan Kantor

Pada dasarnya, aturan perusahaan diciptakan sejalan dengan budaya yang ingin dibangun perusahaan untuk mencapai tujuannya. Tentu saja, karyawan yang ingin bertahan lama bekerja mesti mematuhi aturan yang ada. Namun, apa yang terjadi jika melanggar aturan dapat meningkatkan produktivitas karyawan?

PortalHR, mengutip The Muse, memaparkan 4 waktu yang tepat bagi karyawan melanggar aturan perusahaan.

Ketika Tidak Ada Panduan yang Ketat

Ketika atasan Anda menetapkan target tinggi tetapi tidak dibarengi dengan instruksi yang jelas, Anda mesti melontarkan protes. Tipe atasan seperti itu hanya peduli pada hasil akhir, namun tidak mempedulikan prosesnya. Yang perlu diingat, hal ini akan menurunkan motivasi Anda dan mengakibatkan Anda tidak lagi produktif.

Ketika Anda Diberikan Kebebasan dalam Menyelesaikan Masalah

Saat atasan Anda memberikan kesempatan Anda menyelesaikan sesuatu, maka itulah waktu yang tepat untuk “melanggar aturan”. Keputusan seperti itu adalah indikasi bahwa atasan Anda menginginkan inisiatif lebih Anda dan ide segar dalam penyelesaian masalah.

Ketika Ada Kesempatan yang Jelas-jelas Lebih Baik

Terkadang, perusahaan menetapkan aturan yang tidak fleksibel dan bisa menghambat laju produktivitas karyawan. Saat Anda yang dihadapkan pada kondisi itu, maka melanggar aturan perusahaan adalah keputusan terbaik. Namun, Anda harus memberikan hasil yang optimal agar perusahaan menyadari telah membuat aturan yang keliru.

Ketika Perusahaan Menetapkan Aturan Tidak Relevan

Perusahaan yang baik harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalnya, pada era digital ini, perusahaan mesti menggunakan pemasaran digital guna mendapatkan semakin banyak konsumen. Apabila Anda bekerja di perusahaan yang tidak mengakomodir ide-ide baik untuk maju, maka Anda wajib melanggar aturan. Hal itu akan menyadarkan perusahaan untuk menetapkan aturan baru yang bisa diaplikasikan pada zaman sekarang.

 

Baca
Ciri Karyawan Hendak Mengundurkan Diri dan Cara Mengatasinya

Setiap perusahaan tentu mendambakan karyawan yang bisa menjadi talenta masa depan mereka. Tak heran, perusahaan menyiapkan biaya pelatihan untuk mengembangkan kemampuan karyawannya.

Hanya saja, salah satu tantangan HR selain mempersiapkan karyawan berkualitas adalah menjaga karyawan tetap bertahan di perusahaan.

Pada dasarnya, setiap karyawan yang hendak keluar akan menunjukkan beberapa gejala antara lain:

Datang Terlambat dan Sering Mengaku Sakit

Seseorang yang puas dengan pekerjaannya akan selalu bersemangat ke kantor. Namun, sebaliknya, mereka yang tidak puas akan selalu mencari alasan tidak masuk.

Jika karyawan Anda mulai sering dating terlambat dan sering mengaku sakit, cobalah waspada. Lihat pula alasannya. Apabila alasannya adalah macet dan urusan keluarga, maka besar kemungkinan ia tengah mencari peruntungan lain.

Menghabiskan Waktu Lama saat Makan Siang

Karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk menghindari kantor. Saat makan siang, misalnya, ia akan memanfaatkan waktu tersebut untuk mengobrol.

Produktivitasnya Menurun

Lantaran sering terlambat dan pulang lebih cepat. Karyawan yang hendak keluar akan menujukkan penurunan produktivitas. Ia yang tidak betah, akan sibuk melihat jam tangan dan berharap waktu pulang segera tiba, sehingga bisa cepat meninggalkan kantor.

Menarik Diri dari Lingkungan

Karyawan yang hendak keluar akan cenderung menarik diri dari lingkungan. Ia akan merasa tidak nyaman sekaligus merasa bersalah jika harus berinteraksi dengan lingkungan yang hendak ia tinggalkan.

Pada dasarnya, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga karyawan betah di kantor sebagai berikut:

Prospek Karier yang Jelas

Setiap karyawan tentu ingin melihat “masa depan” mereka di sebuah perusahaan. Tak heran, mereka akan memikirkan bagaimana prospek karier mereka apabila bertahan di sebuah perusahaan.

Cobalah untuk melibatkan karyawan pada proyek-proyek yang menarik dan menantang. Selain itu, berikan pelatihan untuk menunjang kemampuannya naik ke jenjang karier berikutnya.

Akui Kemampuan Mereka

Cobalah mengapresiasi setiap pencapaian karyawan. Pekerjaan yang diapresiasi akan memotivasi karyawan untuk membuat pencapaian baru.

Beri Mereka Kritik yang Membangun

Selain materi serta rasa aman dan nyaman, setiap pekerja ingin meningkatkan kemampuan dirinya selama bekerja. Jadi, tidak ada salahnya memberikan kritik kepada karyawan selama tujuannya membangun. Kritik yang membangun justru akan meningkatkan semangat karyawan sehingga bisa menciptakan inovasi baru.

Baca
Fakta Tentang Perekrutan di Asia

Perubahan zaman tentu membawa perubahan pada karakteristik kelas pekerja. Pada generasi sebelumnya, misalnya, setiap pekerja lebih memprioritaskan jaminan ‘keamanan’ dalam bekerja dan cenderung patuh pada aturan.

Zaman ini pun melahirkan karakteristik pekerja yang berbeda. Kecepatan dan kemudahan akses informasi, tentu saja memberikan dampak pada cara seseorang bersikap dalam pekerjaan.

Deloitte 2017 Global Human Capital Trends Report menjelaskan, saat ini bagian ketenagakerjaan dan perekrutan tengah menghadapi tekanan besar. Hal tersebut diakibatkan kurangnya tenaga kerja dan para ahli yang tersebar luas.

Mereka melanjutkan, banyak pekerja era kini yang menuntut adanya jenis pekerjaan dan model karier baru.

Fakta lain yang mengejutkan adalah banyak pekerja yang tidak menuntut finansial semata dari perusahaan. Mereka cenderung mencari perusahaan atau organisasi dengan nilai-nilai sesuai, work-life balance, otonomi kreatif, dan masih banyak lagi.

Berikut penjelasan detail mengenai karakteristik generasi pekerja terkini:

Digital Mengendalikan Perekrutan

Jumlah pengguna internet di dunia terus meningkat drastis. Menurut data We Are Social pada 2017, 51 persen populasi dunia telah menggunakan internet. Artinya, jumlah itu menyentuh angka 3,8 miliar orang.

Penggunaan internet yang masif tentu berpengaruh pada bidang apa pun, termasuk perekrutan. Tak heran, The Star melaporkan bahwa transformasi digital di berbagai industri di Asia Tenggara akan mengendalikan perekrutan.

Laporan ini tentu saja didukung oleh fakta kemampuan yang paling banyak diminta, yakni big data, komputasi awan, perdagangan elektronik, keamanan cyber, dan teknologi keuangan.

Kandidat Selalu Mencari Kesempatan Baru

Menurut survei Jobstreet dan JobsDB kepada 8.000 pekerja dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, dihasilkan kesimpulan bahwa hampir seluruh mereka tidak setuju dengan pernyataan: saya tidak punya rencana meninggalkan pekerjaan dan perusahaan saya saat ini di tahun yang akan datang.

Fakta lain untuk mendukung kesimpulan kecendurungan kandiat mencari kesempatan baru adalah hampir semua responden aktif dalam melihat-lihat bursa kerja yang tersedia.

Tenaga Kerja Paling Sulit Direkrut

Ketika responden ditanya, posisi apa yang paling sulit direkrut. Mayoritas perekrut di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, mengatakan, posisi supervisor dan spesialis adalah yang tersulit. Sedangkan Singapura dan Thailand memilih posisi junior, sementara Vietnam mengatakan manajer.

Baca