Tes Kecerdasan Sosial Kandidat dengan Pertanyaan Berikut

Saat ini, tren perekrutan telah mengalami perubahan. Lebih dari sekadar kecerdasan intelejen (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), banyak perusahaan yang mempertimbangkan kecerdasan sosial dalam merekrut kandidat.

Perusahaan yang baik, tentu harus dapat mengoptimalkan produktivitas karyawan di tengah keragaman lingkungan dan budaya. Untuk itu, pada proses merekrut kandidat, kecerdasan sosial bisa jadi pertimbangan penting dalam memastikan budaya kerja yang telah berjalan semakin dinamis dan produktif.

Ada lima pertanyaan yang bisa Anda ajukan untuk mengukur kecerdasan sosial kandidat.

Bagaimana Anda Berhasil Bekerja Secara Cross-Fungsional dengan Tim Lain?

Menurut survei, hanya 55 persen kandidat yang berhasil berkolaborasi secara efektif dan efisien dengan lintas departemen. Untuk melakukan itu, diperlukan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi yang baik. Maka, jawaban kandidat pada pertanyaan ini sangat menentukan kecerdasan sosialnya. Kandidat yang baik akan menunjukkan bahwa ia menikmati bekerja dengan beragam orang melalui jawabannya. Bahkan, ia juga berusaha melakukan pendekatan berbeda dalam menyelesaikan pekerjaan yang beririsan dengan banyak orang.

Bagaimana Cara Anda Berhasil Beradaptasi dengan Lingkungan Baru? 

Seorang yang memiliki kecerdasan sosial tentu saja dapat melakukan berbagai hal untuk mengakomodir kebutuhan orang lain. Ia bahkan rela mengubah aspek fisik, emosional, atau mental dalam berinteraksi dengan orang dari kebudayaan lain. Misalnya, ia memilih membungkuk dari pada berjabat tangan saat bertemu orang Jepang. 

Pernahkah Anda Memiliki Persepsi Budaya Berbeda yang Terbukti Salah? 

Pertanyaan ini akan menguji seberapa besar kecerdasan sosial seseorang. Mereka yang memiliki kecerdasan sosial yang baik, akan mengingat kesalahannya dan tertawa seolah menganggap itu sebagai pengalaman lucu. Sedangkan mereka yang memiliki kecerdasan sosial rendah akan defensif dan cenderung kasar pada pertanyaan ini. 

Ceritakan Tentang Latar Belakang Budaya Anda 

Dengan meminta kandidat menceritakan latar belakang budayanya, Anda bisa sekaligus bertanya pendapatnya mengenai, apakah latar belakang budaya kandidat membuatnya kesulitan berkembang atau tidak. Jika ia bisa relaks dalam bercerita, artinya ia terbuka dan menyadari bahwa seseorang memerlukan adaptasi untuk berkembang.

Baca
Kata Siapa Generasi Milenial Pemalas?

Banyak perdebatan mengenai generasi milenial. Asumsi-asumsi negatif mengenai generasi ini pun berkembang di kalangan pelaku bisnis. Bahkan, generasi ini disudutkan dengan cap sebagai generasi pemalas.

Pada dasarnya, perbedaan zaman pada setiap generasi menghasilkan sifat dan perilaku yang beragam. Tantangan, perkembangan teknologi dan budaya, membuat setiap generasi memiliki keunggulan yang berbeda.

Menurut Lifehack, sebenarnya generasi milenial bukanlah generasi pemalas. Setidaknya, lanjut mereka, ada empat hal yang membuat mereka terlihat sebagai pemalas.

Pertama, generasi milenial tidak menyukai sistem tradisional atau kuno. Bagi mereka, aturan soal pakaian, kehadiran di kantor, atau denda keterlambatan merupakan aturan yang tidak efisien. Mereka tidak menyukai pekerjaan yang penuh aturan. Mereka beranggapan, jauh lebih baik mengerjakan sesuatu dengan waktu minimal namun menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Kedua, generasi milenial lebih menyukai manfaat yang tidak terlihat, seperti waktu istirahat. Mereka, yang terbiasa dengan teknologi dan internet, bisa mencari banyak informasi tentang perusahaan sebelum melamar. Bagi generasi ini, manfaat tak kasat mata, seperti budaya kerja, birokrasi yang mudah, lokasi strategis, serta keberadaan kedai kopi adalah pertimbangan penting. Itulah sebabnya, mereka terlihat pemilih dalam bekerja sehingga pada waktu yang bersamaan mereka dicap sebagai pemalas.

Ketiga, generasi milenial menyukai transparansi. Bagi mereka, perintah untuk mengerjakan sesuatu mesti disertai alasan dan tujuan yang logis. Maka, selama atasan dapat memberikan kebutuhan itu, generasi milenial akan mengerjakan perintah dengan maksimal. Tapi sayangnya, pemahaman soal ini terkadang tidak dimiliki oleh atasan mereka, sehingga ketika generasi milenial mengabaikan pekerjaan, mereka langsung dianggap pemalas.

Keempat, generasi milenial suka belajar dari pengalaman. Tidak seperti generasi pendahulunya, generasi milenial lebih ambisius dan pantang menyerah. Mereka suka menggali dan mendapatkan pengalaman baru dalam kehidupan serta pekerjaan. Tak heran, mereka mudah sekali berpindah kantor jika merasa tidak ada lagi tantangan. Namun, sayangnya kesimpulan dari perilaku ini selalu saja berkonotasi negatif. Perusahaan menganggap, alasan generasi milenial keluar adalah karena tidak kuat menghadapi beban kerja dan iklim kompetitif. Padahal, yang terjadi adalah mereka tidak lagi merasa tertantang.

Jadi, untuk mengoptimalkan generasi milenial, perusahaan mesti memiliki strategi khusus dengan mempertimbangkan karakteristik mereka. Dengan begitu, pada masa mendatang, di mana generasi milenial mendominasi generasi produktif, perusahaan bisa berkembang cukup pesat ke arah yang lebih baik.

Baca
Saatnya Pelajari Mandarin Sebagai Bahasa Masa Depan

Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang mesti dikuasai pekerja profesional. Namun, jika Anda ingin mengingkatkan kembali kemampuan bahasa Anda, cobalah mempelajari bahasa Mandarin.

Emily Oster, seorang professor dari Brown University, mengatakan, Mandarin adalah bahasa masa depan dunia.

“Mandarin adalah bahasa ibu dari 14% penduduk dunia, dan sebagian dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris,” ungkapnya.

Mandarin adalah bahasa yang digunakan lebih 1 miliyar orang. Selain itu, negara Tiongkok juga diprediksi akan menjadi negara superpower dalam perekonomian pada 2020.

Berbahasa Mandarin juga dapat meningkatkan nilai jual seorang pekerja di mata perusahaan. Berdasarkan hasil riset, rasio perusahaan yang menginginkan pekerja berbahasa Mandarin meningkat hingga 35 persen.

Robert DeKeyser, seorang profesor bidang bahasa kedua, mengatakan, seorang dewasa tidak bisa belajar bahasa kedua layaknya anak-anak.

“Anak-anak bisa memahami garis besar bahasa tanpa perlu mengetahui aturannya. Sebaliknya, orang dewasa mesti belajar aturannya terlebih dahulu sebelum mempelajari seluruh bahasa,” ungkapnya.

Melansir PortalHR.com, rupanya perusahaan di China tidak mensyaratkan karyawannya bisa berbahasa Mandarin dengan lancar. Beberapa perusahaan China justru mencari karyawan yang memiliki ragam pendidikan dan pengalaman. Dan, akan menjadi nilai plus jika memiliki pengalaman di perusahaan multinasional.

Baca
Cari Tahu Tentang Daniel Zhang: Sosok Pengganti Jack Ma di Alibaba

Pada 10 September 2018, Jack Ma, CEO Alibaba Group, telah menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya. Jack Ma memang sudah mengungkapkan akan mundur dari kepemimpinan E Commerce raksasa dari Cina itu pada September 2019 nanti.

Pria yang ditunjuk Jack Ma bernama Daniel Zhang. Kini, Zhang akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan bernilai US$418 miliar.

Daniel Zhang telah bergabung di Alibaba sejak tahun 2007 dan telah menjadi CEO sejak 2015.

Ternyata, para karyawan di Alibaba memiliki julukan pada rekannya sesuai dengan tokoh fiksi cerita Tiongkok. Tak terkecuali Daniel, ia mendapatkan julukan Xiaoyao zi, seorang lelaki tangguh pemimpin kelompok Xiaoyao.

“Daya analisis Zhang tak tertandingi. Ia pun memegang teguh misi dan visi perusahaan, serta memikul tanggung jawab dengan penuh semangat. Selain itu, ia juga mempunyai keberanian berinovasi dan menguji coba berbagai model bisnis baru.” Ungkap Ma.

Sebelum bergabung dengan Alibaba, Daniel Zhang merupakan Chief Financial Officer (CFO) Shanda Interactive. Perusahaan itu merupakan penguasa industri game di China. Selain itu, ia merupakan mantan manajer senior di perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC).

Zhang juga merupakan orang yang mengembangkan bisnis TMall, marketplace yang fokus menjual barang-barang bermerek. Model bisnis itu memang berseberangan dengan Taobao milik Alibaba, yang dipersepsikan banyak menjual barang palsu.

Zhang juga merupakan sosok penting di balik kampanye belanja tahunan “Singles’ Day” yang jatuh pada 11 November.

Pada tahun 2010, Zhang juga memimpin transformasi TMall dari perangkat PC ke perangkat mobile. Pada 2015, ia juga menjadi tokoh kunci pengembangan Hema, supermarket milik Alibaba.

Sumber foto: Alzila.com

Baca
Saatnya Ubah Mekanisme Rapat Menjadi Lebih Produktif

Memanfaatkan waktu kerja sebaik-baiknya adalah kunci kerja produktif. Namun, sering kali kita mesti terjebak pada rapat yang menghabiskan banyak waktu.

Tak dipungkiri, rapat sangat diperlukan untuk kebutuhan koordinasi. Hanya saja, rapat yang tidak terorganisir justru memotong banyak jam kerja, mengganggu jadwal kegiatan, bahkan mengganggu konsentrasi kerja.

Permasalahan lain adalah setiap orang memiliki jam produktif yang berbeda. Bayangkan, jika rapat justru banyak memotong jam produktif tersebut, maka target yang ditetapkan karyawan justru tidak tercapai.

Halaman IDTechinAsia membahas bagaimana tips agar rapat bisa jauh lebih produktif sebagai berikut:

Hadir Tepat Waktu

Yang perlu diingat saat rapat adalah adanya persiapan sebelum rapat. Maka, selalu tanamkan untuk hadir rapat tepat waktu. Misalnya rapat dimulai pukul 12.00 WIB, maka sebaiknya pastikan peserta hadir minimal 10 menit sebelumnya. Jika memungkinkan segala persiapan teknis disiapkan oleh penanggung jawab rapat sebelumnya. Misalnya, pemasangan proyektor dan lain lain.

Buat Undangan Rapat Secara Proporsional

Sering kali, dalam rapat banyak anggota yang cuma menjadi peserta pasif semata. Padahal, jauh lebih baik bagi mereka untuk fokus bekerja. Untuk itu, perlu adanya mekanisme yang lebih selektif dalam mengundang rapat.

Sebelum rapat, penggagas rapat bisa membagikan undangan kepada calon peserta yang dirasa perlu hadir. Namun, buat opsi bagi mereka untuk tidak menghadiri rapat. Dengan catatan, mereka memang benar-benar tidak perlu hadir.

Selain itu, buatlah mekanisme izin keluar di tengah rapat. Misalnya, divisi A hanya dibutuhkan hadir dalam 30 menit rapat di awal, maka mereka berhak keluar rapat setelah waktu tersebut.

Cobalah Rapat Secara Online

Teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam urusan pekerjaan. Maka, mulailah untuk menjadwalkan rapat secara online apabila hal tersebut tidak memerlukan tatap muka. Manfaatkan platform seperti Google Docs, screen sharing, atau lain-lain.

Buatlah Rapat Tidak Membosankan

Inti lain dari penyelenggaraan rapat adalah peningkatan motivasi dan produktivitas. Maka, untuk menghindari rapat menjadi kewajiban kehadiran semata, buatlah sistem kepanitiaan. Jadikan rapat dinamis dengan mekanisme moderator, kesekretariatan, dan lain-lain. Ubah suasana rapat menjadi dinamis dan menyenangkan.

Baca
Sibuk VS Produktif

Orang yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik bisa dikatakan sebagai orang yang produktif. Namun, sering kali kita beranggapan mereka yang terus mengangkat telepon, membalas banyak email, dan kerja tanpa henti sebagai orang produktif.

Ternyata, sibuk bekerja bukanlah indikator utama produktivitas. Morgan Spurlock, pembuat film, presiden sekaligus pendiri Warrior Poets Entertainment, dalam tulisannya di LinkedIn mengatakan, “Saya tidak tahu kapan ini terjadi. Tapi, saat ini kita yakin menjadi sibuk adalah hal baik bagi kita.”

Bagi Spurlock dan timnya, tidak ada istilah ‘sibuk’. Ia justru mengganti kata sibuk dengan produktif. Ia menambahkan, perbedaan antara sibuk dan produktif pada dasarnya sangat terasa.

Ia bertutur, sibuk dapat digambarkan dengan orang-orang yang kewalahan mengerjakan banyak hal atau tidak punya waktu mengerjakan hal lain. Sementara produktif, lanjutnya, menggambarkan lingkungan yang penuh tujuan, baik pribadi dan profesional, dan berorientasi kepada hasil.

Ia mengibaratkan, orang produktif adalah mereka yang lebih fokus menghasilkan sesuatu daripada mengerjakan sesuatu.

Pada dasarnya, untuk menjadi produktif bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa metode dalam bekerja. Yang pertama adalah membuat skala prioritas dalam pekerjaan.

Coba bandingkan. Seorang yang punya target menyelesaikan tiga pekerjaan dan seorang yang ingin mengerjakan banyak hal.

Mereka yang sudah menentukan prioritas akan fokus menyelesaikan tanggung jawab utamanya. Sedangkan mereka yang tidak, justru akan melompat-lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan hasil tidak menyelesaikan apa pun.

Pembagian prioritas ini akan menjadikan seseorang justru bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Misalnya, 3 prioritas itu selesai pada siang hari, sisa waktu justru bisa dimanfaatkan mengerjakan 2 pekerjaan tambahan.

Kedua adalah fokus pada satu pekerjaan saja. Jadi, jika Anda merasa hebat ketika menjadi multitasking, bisa jadi Anda justru adalah pekerja yang buruk.

Menurut penelitian, seseorang yang terus dibombardir dengan banyak pekerjaan justru akan sulit memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan bahkan, menurut riset University of London, mengalami penurunan IQ.

Ketiga adalah strategi dalam mengambil keputusan. Jadi, orang produktif akan mengatakan “ya” dengan penuh pertimbangan. Sedangkan orang sibuk akan mengatakan “ya” pada semua hal.

Bagi orang produktif, kata “ya” adalah kata keramat. Mereka akan mempertimbangkan dampak serta potensi tanggung jawab yang justru membantu mereka mencapai tujuan utama.

Jadi, apabila Anda dihadapkan pada suatu tugas, cobalah minta rincian yang lebih detail mengenai tenggat waktu, tingkat kesulitan, dan risiko dari tanggung jawab tersebut.

Baca
Lima Budaya yang Akan Membuat Perusahaan Berkembang Pesat

Kualitas perusahaan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Bahkan, menurut para ahli, yang dikutip IDTechinAsia, budaya perusahaan dapat mempengaruhi kualitas perusahaan hingga 30 persen.

Pada dasarnya, masih banyak karyawan yang mencari bagaimana identitas budayanya. Dan, hal tersebut justru menyebabkan turnover tinggi yang berdampak pada kerugian perusahaan. Menurut ahli, turnover karyawan akan menimbulkan penambahan biaya perekrutan serta menghambat laju produktif perusahaan.

Hofstade, seorang ahli, mengatakan, budaya perusahaan adalah perencanaan bersama dari pola pikir kolektif yang membedakan anggota-anggota suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari budaya yang lain. Atau, secara sederhana, bagaimana cara perusahaan berinteraksi dengan karyawan, meliputi perilaku, nilai-nilai, serta kepercayaan yang ditanamkan untuk mencapai visi dan misi bersama.

banner_artikel

Pada dasarnya, penanaman budaya perusahaan mesti menyeluruh, mulai dari pekerja di level manajemen hingga pekerja lapangan. Budaya perusahaan yang kuat dan positif, akan membuat karyawan semakin mencintai pekerjaannya.

Kevin King, Marketing Lead Bambu, seperti dikutip IDTechinAsia, mengatakan, setidaknya ada lima budaya yang akan membuat perusahaan berkembang pesat.

Beri Dukungan dari Atas

Berdasarkan survei, 89 persen karyawan yang diberi dukungan oleh atasan akan lebih puas pada pekerjaannya. Pada dasarnya, budaya perusahaan harus ditumbuhkan dari tingkatan hierarki atas.

Belajar Mendengarkan

Kayawan yang didengarkan adalah karyawan yang bahagia. Banyaknya divisi dalam perusahaan mengakibatkan mereka jarang berinteraksi. Maka, mengumpulkan karyawan untuk melakukan brainstorming bisa memunculkan ide-ide hebat yang tak terpikirkan sebelumnya.

Merekrut dengan Hati-hati

Terkadang, akibat proses rekrutmen yang terburu-buru, perusahaan mendapatkan kandidat yang tidak sesuai dengan budayanya. Hal itu akan berdampak cukup signifikan pada kemajuan perusahaan. Karyawan tersebut akan membawa rasa tidak nyaman bagi lingkungannya sehingga menimbulkan penurunan motivasi.

Menyadari Pentingnya Komunikasi

Menurut survei, 86 persen karyawan merasa kegagalan di tempat kerja berawal dari kolaborasi atau komunikasi yang tidak efisien. Mengkomunikasikan nilai-nilai dan visi perusahaan pada karyawan akan menstimulasi budaya kolaboratif di dalam perusahaan.

Fasilitasi Feedback

Manajemen top-down adalah manajamen di mana karyawan di level bawah hanya bisa tunduk pada atasan. Sistem manajemen ini sudah kuno, sebab idealnya, pada era modern ini, para atasan mesti terbuka dan mau mendengar bawahan. Membuat kebijakan open-door di perusahaan akan membuat karyawan berani menyampaikan keluhan dan masukan positif kepada perusahaan.

Baca
8 Jam Kantor Sama Artinya dengan 3 Jam Freelance

Saat ini, lazimnya perusahaan menetapkan aturan 8 jam kerja bagi setiap karyawan dalam sehari. Ditulis laman IDTechinAsia, penetapan waktu itu pada dasarnya tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi. Bahkan, penentuan jam ini sebenarnya terjadi pada era revolusi industri abad ke-18.

Pada abad ke-18, rata-rata pekerja bekerja 10-16 jam dalam sehari karena pabrik-pabrik terus berproduksi selama 24 jam. Namun, lantaran dianggap tidak layak, Robert Owen, mencetuskan jam kerja yang lebih pendek.

Slogan yang dicetuskan pria asal Wales itu, berbunyi, “Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, dan delapan jam istirahat.”

Lalu, hampir seabad kemudian, Ford Motor Company menerapkan delapan jam kerja serta melipatgandakan gaji karyawan. Hasilnya, terdapat capaian yang lebih optimal dan efektif.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

Kegiatan tersebut, yakni mengecek media sosial selama 44 menit, membaca situs berita 1 jam 5 menit, mengobrol hal di luar pekerjaan 40 menit, membuat minuman 17 menit, merokok 23 menit, mengirim SMS atau chatting 14 menit, makan camilan selama 8 menit, membuat makanan di kantor selama 7 menit, menelepon teman selama 18 menit, dan mencari pekerjaan baru selama 23 menit.

Mereka, para responden, beralasan, pengalihan fokus di atas justru mampu membantu mereka dalam menjalani keseharian.

Rupanya, tempat kerja dan kehidupan modern menawarkan banyak sekali pengalihan fokus, mulai dari gadget, makanan, hingga minuman.

Artinya, jika pun karyawan bekerja secara fokus dari rumah, mereka sudah bisa menggantikan produktivitas delapan jam kantor. Apalagi, dengan bekerja di rumah, karyawan tidak terbebani stres akibat kemacetan dan menghabiskan waktu di jalan.

Beberapa perusahaan di Swedia, bahkan telah menetapkan enam jam kerja pada karyawan. Dan, itu terbukti dari karyawan yang lebih sehat, puas, dan memiliki kinerja lebih baik.

Baca
5 Kota Ini Menerapkan Jam Kerja Paling Sedikit di Dunia

Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, perusahaan menerapkan waktu kerja 8 jam pada karyawannya. Padahal, penetapan waktu itu tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

Laman Detik.com, mengutip UBS, mengungkapkan 5 kota ini menerapkan jam kerja paling sedikit di dunia.

Paris

Jika Anda memimpikan waktu kerja sedikit, Paris adalah pilihan tepat. Negara yang terkenal dengan modenya itu merupakan negara dengan jam kerja paling santai di dunia. Tercatat, pekerja di sana hanya menghabiskan 1.604 jam kerja setiap tahun

“Mereka yang suka kerja dengan waktu singkat, mungkin harus mencari kerja di Paris. Pekerja di sana hanya bekerja sekitar 35 jam setiap pekan dan memiliki 29 hari cuti dengan gaji,” ungkap UBS.

Pada 2000 silam, Prancis mendorong jam kerja karyawan selama 35 jam per pekan. Tujuannya adalah untuk merekrut sebanyak-banyaknya kandidat. Namun, berbeda dengan Paris, Hongkong memiliki jam kerja hingga 2.606 jam per tahun atau lebih 50 jam per pekan.

Lyon

Lyon adalah salah satu kota di Prancis yang menerapkan jam kerja singkat. Rata-rata pekerja di sana hanya menghabiskan jam kerja 1.631 jam per tahun. Selain itu, setiap pekerja juga memiliki jatah 29 hari cuti dengan gaji.

Moscow

Moscow menempati urutan ketiga. Pekerja di sana termasuk memiliki jam kerja singkat di dunia. Menurut catatan UBS, rata-rata pekerja Moscow menghabiskan 1.647 jam per tahun dengan jatah cuti 31 hari disertai gaji.

Helsinki

Helsinki adalah Ibukota negara Finlandia. Bagi Anda yang mendambakan bekerja dengan santai di tengah kondisi politik yang stabil, maka kota ini adalah pilihan tepat. Selain itu, keunggulan lain bekerja di Finlandia adalah kesempatan untuk mendapatkan banyak pelatihan.

Ternyata, pekerja di kota ini hanya bekerja 1.659 jam per tahun dengan jatah cuti 29 hari disertai gaji.

Wina

Wina merupakan Ibu Kota Austria yang memiliki populasi 1,8 juta jiwa. Di sana, rata-rata jam kerja karyawan adalah 1.678 jam per tahun dengan jatah cuti 27 hari disertai gaji.

Bahkan, menurut beberapa survei, Wina merupakan kota ternyaman ditinggali di dunia setelah Melbourne, Australia.

Wina dikenal memiliki reputasi bagus dalam standar kehidupan masyarakatnya, serta memiliki infastruktur solid dan kesehatan yang bagus.

Baca