https://conexus.co.id/index.php/media/view/72-Inilah%20Kombinasi%20Warna%20yang%20Tepat%20untuk%20Meningkatkan%20Produktivitas%20Karyawan
Inilah Kombinasi Warna yang Tepat untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Kantor ideal harusnya bisa menjadi ‘rumah kedua’ bagi karyawan. Tak heran, banyak perusahaan sekarang mempersiapkan kantornya sedemikian rupa guna membuat karyawan betah dan produktif.

Pemilihan warna tidak bisa dipisahkan dari dekorasi. Secara psikologis, pemilihan warna bukanlah persoalan kenyamanan visual dan estetika semata, melainkan sangat berdampak pada pembangunan suasana kantor. Berikut pengaruh warna dalam membangun suasana kantor.

Lebih Energik dengan Merah dan Oranye

Elizabeth Brown, pendiri EB Color Consulting yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat, mengatakan, warna merah dan oranye dapat menciptakan suasana energik. Namun, ia menambahkan, jangan terlalu banyak memasukkan warna merah sebab bisa memicu agresi dan stres.

Leslie Harrington, Exevutive Director sebuah perusahaan konsultan warna di Amerika, lebih jauh menjelaskan, sebaiknya warna merah ditempatkan di ruang-ruang di mana karyawan menghabiskan sedikit waktu. Misalnya, kamar mandi, dapur, atau tempat di mana karyawan tidak bekerja.

Beri Rasa Bahagia dengan Kuning

Secara psikologis, warna kuning bisa menciptakan rasa bahagia. Namun, menempatkan warna kuning di seluruh ruangan dan dekorasi justru akan merusak mood seseorang. Secara psikologis, warna kuning berkaitan erat dengan rasa percaya diri dan keceriaan. Maka, sebaiknya warna ini diterapkan di furnitur kantor seperti, misalnya, kursi. Dan, menurut saran Mark Woodman, Ketua Color Marketing Group, pilih warna kelam, seperti biru muda sebagai kombinasi warna kuning.

Tingkatkan Kreativitas dengan Biru dan Hijau

Warna alam, seperti hijau dan biru, akan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi, jika Anda menempatkan warna hijau alami seperti pada tanaman. Bahkan Personality and Social Psychology Bulletin, pada 2012, melakukan penelitan terhadap dampak warna hijau. Hasilnya, peserta yang biasa melihat warna hijau menunjukkan kreativitas dan produktivitas yang lebih dibandingkan mereka yang tidak.

Redakan Stres dengan Warna Pastel

Warna-warna muda ini sebaiknya ambil bagian pada dekorasi kantor. Warna seperti peach akan memberikan ketenangan dan meredakan stress karyawan. Buatlah warna pastel sebagai komposisi warna dinding secara seimbang. Jangan buat terlalu banyak kontras karena itu justru akan membuat mata lelah.

Kata Siapa Generasi Milenial Pemalas?

Banyak perdebatan mengenai generasi milenial. Asumsi-asumsi negatif mengenai generasi ini pun berkembang di kalangan pelaku bisnis. Bahkan, generasi ini disudutkan dengan cap sebagai generasi pemalas.

Pada dasarnya, perbedaan zaman pada setiap generasi menghasilkan sifat dan perilaku yang beragam. Tantangan, perkembangan teknologi dan budaya, membuat setiap generasi memiliki keunggulan yang berbeda.

Menurut Lifehack, sebenarnya generasi milenial bukanlah generasi pemalas. Setidaknya, lanjut mereka, ada empat hal yang membuat mereka terlihat sebagai pemalas.

Pertama, generasi milenial tidak menyukai sistem tradisional atau kuno. Bagi mereka, aturan soal pakaian, kehadiran di kantor, atau denda keterlambatan merupakan aturan yang tidak efisien. Mereka tidak menyukai pekerjaan yang penuh aturan. Mereka beranggapan, jauh lebih baik mengerjakan sesuatu dengan waktu minimal namun menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Kedua, generasi milenial lebih menyukai manfaat yang tidak terlihat, seperti waktu istirahat. Mereka, yang terbiasa dengan teknologi dan internet, bisa mencari banyak informasi tentang perusahaan sebelum melamar. Bagi generasi ini, manfaat tak kasat mata, seperti budaya kerja, birokrasi yang mudah, lokasi strategis, serta keberadaan kedai kopi adalah pertimbangan penting. Itulah sebabnya, mereka terlihat pemilih dalam bekerja sehingga pada waktu yang bersamaan mereka dicap sebagai pemalas.

Ketiga, generasi milenial menyukai transparansi. Bagi mereka, perintah untuk mengerjakan sesuatu mesti disertai alasan dan tujuan yang logis. Maka, selama atasan dapat memberikan kebutuhan itu, generasi milenial akan mengerjakan perintah dengan maksimal. Tapi sayangnya, pemahaman soal ini terkadang tidak dimiliki oleh atasan mereka, sehingga ketika generasi milenial mengabaikan pekerjaan, mereka langsung dianggap pemalas.

Keempat, generasi milenial suka belajar dari pengalaman. Tidak seperti generasi pendahulunya, generasi milenial lebih ambisius dan pantang menyerah. Mereka suka menggali dan mendapatkan pengalaman baru dalam kehidupan serta pekerjaan. Tak heran, mereka mudah sekali berpindah kantor jika merasa tidak ada lagi tantangan. Namun, sayangnya kesimpulan dari perilaku ini selalu saja berkonotasi negatif. Perusahaan menganggap, alasan generasi milenial keluar adalah karena tidak kuat menghadapi beban kerja dan iklim kompetitif. Padahal, yang terjadi adalah mereka tidak lagi merasa tertantang.

Jadi, untuk mengoptimalkan generasi milenial, perusahaan mesti memiliki strategi khusus dengan mempertimbangkan karakteristik mereka. Dengan begitu, pada masa mendatang, di mana generasi milenial mendominasi generasi produktif, perusahaan bisa berkembang cukup pesat ke arah yang lebih baik.

Baca
Kapan Waktu yang Tepat Melanggar Aturan Kantor

Pada dasarnya, aturan perusahaan diciptakan sejalan dengan budaya yang ingin dibangun perusahaan untuk mencapai tujuannya. Tentu saja, karyawan yang ingin bertahan lama bekerja mesti mematuhi aturan yang ada. Namun, apa yang terjadi jika melanggar aturan dapat meningkatkan produktivitas karyawan?

PortalHR, mengutip The Muse, memaparkan 4 waktu yang tepat bagi karyawan melanggar aturan perusahaan.

Ketika Tidak Ada Panduan yang Ketat

Ketika atasan Anda menetapkan target tinggi tetapi tidak dibarengi dengan instruksi yang jelas, Anda mesti melontarkan protes. Tipe atasan seperti itu hanya peduli pada hasil akhir, namun tidak mempedulikan prosesnya. Yang perlu diingat, hal ini akan menurunkan motivasi Anda dan mengakibatkan Anda tidak lagi produktif.

Ketika Anda Diberikan Kebebasan dalam Menyelesaikan Masalah

Saat atasan Anda memberikan kesempatan Anda menyelesaikan sesuatu, maka itulah waktu yang tepat untuk “melanggar aturan”. Keputusan seperti itu adalah indikasi bahwa atasan Anda menginginkan inisiatif lebih Anda dan ide segar dalam penyelesaian masalah.

Ketika Ada Kesempatan yang Jelas-jelas Lebih Baik

Terkadang, perusahaan menetapkan aturan yang tidak fleksibel dan bisa menghambat laju produktivitas karyawan. Saat Anda yang dihadapkan pada kondisi itu, maka melanggar aturan perusahaan adalah keputusan terbaik. Namun, Anda harus memberikan hasil yang optimal agar perusahaan menyadari telah membuat aturan yang keliru.

Ketika Perusahaan Menetapkan Aturan Tidak Relevan

Perusahaan yang baik harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalnya, pada era digital ini, perusahaan mesti menggunakan pemasaran digital guna mendapatkan semakin banyak konsumen. Apabila Anda bekerja di perusahaan yang tidak mengakomodir ide-ide baik untuk maju, maka Anda wajib melanggar aturan. Hal itu akan menyadarkan perusahaan untuk menetapkan aturan baru yang bisa diaplikasikan pada zaman sekarang.

 

Baca
Ciri Karyawan Hendak Mengundurkan Diri dan Cara Mengatasinya

Setiap perusahaan tentu mendambakan karyawan yang bisa menjadi talenta masa depan mereka. Tak heran, perusahaan menyiapkan biaya pelatihan untuk mengembangkan kemampuan karyawannya.

Hanya saja, salah satu tantangan HR selain mempersiapkan karyawan berkualitas adalah menjaga karyawan tetap bertahan di perusahaan.

Pada dasarnya, setiap karyawan yang hendak keluar akan menunjukkan beberapa gejala antara lain:

Datang Terlambat dan Sering Mengaku Sakit

Seseorang yang puas dengan pekerjaannya akan selalu bersemangat ke kantor. Namun, sebaliknya, mereka yang tidak puas akan selalu mencari alasan tidak masuk.

Jika karyawan Anda mulai sering dating terlambat dan sering mengaku sakit, cobalah waspada. Lihat pula alasannya. Apabila alasannya adalah macet dan urusan keluarga, maka besar kemungkinan ia tengah mencari peruntungan lain.

Menghabiskan Waktu Lama saat Makan Siang

Karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk menghindari kantor. Saat makan siang, misalnya, ia akan memanfaatkan waktu tersebut untuk mengobrol.

Produktivitasnya Menurun

Lantaran sering terlambat dan pulang lebih cepat. Karyawan yang hendak keluar akan menujukkan penurunan produktivitas. Ia yang tidak betah, akan sibuk melihat jam tangan dan berharap waktu pulang segera tiba, sehingga bisa cepat meninggalkan kantor.

Menarik Diri dari Lingkungan

Karyawan yang hendak keluar akan cenderung menarik diri dari lingkungan. Ia akan merasa tidak nyaman sekaligus merasa bersalah jika harus berinteraksi dengan lingkungan yang hendak ia tinggalkan.

Pada dasarnya, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga karyawan betah di kantor sebagai berikut:

Prospek Karier yang Jelas

Setiap karyawan tentu ingin melihat “masa depan” mereka di sebuah perusahaan. Tak heran, mereka akan memikirkan bagaimana prospek karier mereka apabila bertahan di sebuah perusahaan.

Cobalah untuk melibatkan karyawan pada proyek-proyek yang menarik dan menantang. Selain itu, berikan pelatihan untuk menunjang kemampuannya naik ke jenjang karier berikutnya.

Akui Kemampuan Mereka

Cobalah mengapresiasi setiap pencapaian karyawan. Pekerjaan yang diapresiasi akan memotivasi karyawan untuk membuat pencapaian baru.

Beri Mereka Kritik yang Membangun

Selain materi serta rasa aman dan nyaman, setiap pekerja ingin meningkatkan kemampuan dirinya selama bekerja. Jadi, tidak ada salahnya memberikan kritik kepada karyawan selama tujuannya membangun. Kritik yang membangun justru akan meningkatkan semangat karyawan sehingga bisa menciptakan inovasi baru.

Baca
Fakta Tentang Perekrutan di Asia

Perubahan zaman tentu membawa perubahan pada karakteristik kelas pekerja. Pada generasi sebelumnya, misalnya, setiap pekerja lebih memprioritaskan jaminan ‘keamanan’ dalam bekerja dan cenderung patuh pada aturan.

Zaman ini pun melahirkan karakteristik pekerja yang berbeda. Kecepatan dan kemudahan akses informasi, tentu saja memberikan dampak pada cara seseorang bersikap dalam pekerjaan.

Deloitte 2017 Global Human Capital Trends Report menjelaskan, saat ini bagian ketenagakerjaan dan perekrutan tengah menghadapi tekanan besar. Hal tersebut diakibatkan kurangnya tenaga kerja dan para ahli yang tersebar luas.

Mereka melanjutkan, banyak pekerja era kini yang menuntut adanya jenis pekerjaan dan model karier baru.

Fakta lain yang mengejutkan adalah banyak pekerja yang tidak menuntut finansial semata dari perusahaan. Mereka cenderung mencari perusahaan atau organisasi dengan nilai-nilai sesuai, work-life balance, otonomi kreatif, dan masih banyak lagi.

Berikut penjelasan detail mengenai karakteristik generasi pekerja terkini:

Digital Mengendalikan Perekrutan

Jumlah pengguna internet di dunia terus meningkat drastis. Menurut data We Are Social pada 2017, 51 persen populasi dunia telah menggunakan internet. Artinya, jumlah itu menyentuh angka 3,8 miliar orang.

Penggunaan internet yang masif tentu berpengaruh pada bidang apa pun, termasuk perekrutan. Tak heran, The Star melaporkan bahwa transformasi digital di berbagai industri di Asia Tenggara akan mengendalikan perekrutan.

Laporan ini tentu saja didukung oleh fakta kemampuan yang paling banyak diminta, yakni big data, komputasi awan, perdagangan elektronik, keamanan cyber, dan teknologi keuangan.

Kandidat Selalu Mencari Kesempatan Baru

Menurut survei Jobstreet dan JobsDB kepada 8.000 pekerja dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, dihasilkan kesimpulan bahwa hampir seluruh mereka tidak setuju dengan pernyataan: saya tidak punya rencana meninggalkan pekerjaan dan perusahaan saya saat ini di tahun yang akan datang.

Fakta lain untuk mendukung kesimpulan kecendurungan kandiat mencari kesempatan baru adalah hampir semua responden aktif dalam melihat-lihat bursa kerja yang tersedia.

Tenaga Kerja Paling Sulit Direkrut

Ketika responden ditanya, posisi apa yang paling sulit direkrut. Mayoritas perekrut di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, mengatakan, posisi supervisor dan spesialis adalah yang tersulit. Sedangkan Singapura dan Thailand memilih posisi junior, sementara Vietnam mengatakan manajer.

Baca
Saatnya Pelajari Mandarin Sebagai Bahasa Masa Depan

Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang mesti dikuasai pekerja profesional. Namun, jika Anda ingin mengingkatkan kembali kemampuan bahasa Anda, cobalah mempelajari bahasa Mandarin.

Emily Oster, seorang professor dari Brown University, mengatakan, Mandarin adalah bahasa masa depan dunia.

“Mandarin adalah bahasa ibu dari 14% penduduk dunia, dan sebagian dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris,” ungkapnya.

Mandarin adalah bahasa yang digunakan lebih 1 miliyar orang. Selain itu, negara Tiongkok juga diprediksi akan menjadi negara superpower dalam perekonomian pada 2020.

Berbahasa Mandarin juga dapat meningkatkan nilai jual seorang pekerja di mata perusahaan. Berdasarkan hasil riset, rasio perusahaan yang menginginkan pekerja berbahasa Mandarin meningkat hingga 35 persen.

Robert DeKeyser, seorang profesor bidang bahasa kedua, mengatakan, seorang dewasa tidak bisa belajar bahasa kedua layaknya anak-anak.

“Anak-anak bisa memahami garis besar bahasa tanpa perlu mengetahui aturannya. Sebaliknya, orang dewasa mesti belajar aturannya terlebih dahulu sebelum mempelajari seluruh bahasa,” ungkapnya.

Melansir PortalHR.com, rupanya perusahaan di China tidak mensyaratkan karyawannya bisa berbahasa Mandarin dengan lancar. Beberapa perusahaan China justru mencari karyawan yang memiliki ragam pendidikan dan pengalaman. Dan, akan menjadi nilai plus jika memiliki pengalaman di perusahaan multinasional.

Baca
Cari Tahu Tentang Daniel Zhang: Sosok Pengganti Jack Ma di Alibaba

Pada 10 September 2018, Jack Ma, CEO Alibaba Group, telah menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya. Jack Ma memang sudah mengungkapkan akan mundur dari kepemimpinan E Commerce raksasa dari Cina itu pada September 2019 nanti.

Pria yang ditunjuk Jack Ma bernama Daniel Zhang. Kini, Zhang akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan bernilai US$418 miliar.

Daniel Zhang telah bergabung di Alibaba sejak tahun 2007 dan telah menjadi CEO sejak 2015.

Ternyata, para karyawan di Alibaba memiliki julukan pada rekannya sesuai dengan tokoh fiksi cerita Tiongkok. Tak terkecuali Daniel, ia mendapatkan julukan Xiaoyao zi, seorang lelaki tangguh pemimpin kelompok Xiaoyao.

“Daya analisis Zhang tak tertandingi. Ia pun memegang teguh misi dan visi perusahaan, serta memikul tanggung jawab dengan penuh semangat. Selain itu, ia juga mempunyai keberanian berinovasi dan menguji coba berbagai model bisnis baru.” Ungkap Ma.

Sebelum bergabung dengan Alibaba, Daniel Zhang merupakan Chief Financial Officer (CFO) Shanda Interactive. Perusahaan itu merupakan penguasa industri game di China. Selain itu, ia merupakan mantan manajer senior di perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC).

Zhang juga merupakan orang yang mengembangkan bisnis TMall, marketplace yang fokus menjual barang-barang bermerek. Model bisnis itu memang berseberangan dengan Taobao milik Alibaba, yang dipersepsikan banyak menjual barang palsu.

Zhang juga merupakan sosok penting di balik kampanye belanja tahunan “Singles’ Day” yang jatuh pada 11 November.

Pada tahun 2010, Zhang juga memimpin transformasi TMall dari perangkat PC ke perangkat mobile. Pada 2015, ia juga menjadi tokoh kunci pengembangan Hema, supermarket milik Alibaba.

Sumber foto: Alzila.com

Baca