https://conexus.co.id/index.php/media/view/71-Startup%20Harus%20Pertimbangkan%205%20Hal%20Ini%20Saat%20Memilih%20Kantor
Startup Harus Pertimbangkan 5 Hal Ini Saat Memilih Kantor

Tren pertumbuhan startup semakin marak di dunia. Bahkan, menurut laporan startup ranking, Indonesia menempati posisi kelima dalam pertumbuhan startup. Tercatat, Indonesia memiliki sekitar 1.705 startup, itu artinya Indonesia berada urutan keempat di bawah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713, dan Inggris 2.971.

Indonesia memiliki jumlah startup yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Misalnya, Singapura 508, Filipina 193, Malaysia 144, Thailand 81, Vietnam 73.

Kabar baik berikutnya, ada tujuh startup yang sudah berstatus unicorn, yakni startup yang memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk startup adalah pilihan kantor. Faktanya, menurut hasil sejumlah riset, kantor sangat berpengaruh terhadap produktvitas karyawan. Namun, setiap startup juga mesti memiliki pertimbangan dalam memilih kantor agar mendapatkan kantor yang ideal. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada 5 pertimbangan yang bisa diambil sebagai berikut:

Anggaran

Tentu saja, setiap startup selalu ingin mengacu pada Google dalam memilih kantor. Hanya saja, pilihan yang tidak mempertimbangkan anggaran justru akan membuat perusahaan gulung tikar. Jangan tergoda membeli atau menyewa kantor mewah, sebab tentu saja, di luar biaya property, masih ada biaya renovasi dan pemeliharaan yang mesti dikeluarkan. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan agen properti dalam memilih kantor.

Analisis Pertumbuhan Perusahaan

Ketika perusahaan mulai tumbuh, jangan dulu gegabah berpindah kantor yang lebih besar. Analisis secara teliti tim mana saja yang akan mengalami pertumbuhan pesat. Jadi, jauh lebih baik memilih kantor sesuai kebutuhan. Artinya, jangan pilih kantor yang terlalu besar atau bahkan yang terlalu kecil.

Lokasi Strategis

Lokasi strategis bukan berarti artinya berada di tengah kota. Lokasi strategis dipengaruhi oleh letak atau jarak dengan kantor klien serta jarak dengan domisili rata-rata karyawan. Faktanya, salah satu faktor alasan karyawan mengundurkan diri adalah lokasi tempat kerjanya. Maka, buatlah pilihan bijak ketika memutuskan pindah kantor dengan lebih dulu berkonsultasi kepada karyawan.

Akses Fasilitas

Pastikan kantor Anda berlokasi tidak jauh dari fasilitas yang dibutuhkan oleh karyawan. Misalnya, dekat dengan rumah sakit, bank, transportasi, tempat ibadah, dan lain-lain. Bayangkan, jika seorang karyawan membutuhkan aktivitas perbankan di bank dan lokasinya sangat jauh, tentu hal itu akan terpaksa mengurangi jam produktifnya.

Office Branding

Sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh, tentu sangat penting untuk membangun reputasi di mata klien. Dan, pembangunan reputasi ini mesti sejalan dengan arah bisnis perusahaan. Misalnya, perusahaan agensi periklanan mesti mendekorasi kantornya jauh dari kesan kaku sebab klien yang datang ke sana pasti membutuhkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.

Aktivitas Pagi dan Malam Ini akan Meningkatkan Produktivitas Anda

Pagi hari sangat mempengaruhi produktivitas seseorang sepanjang hari. Aktivitas yang Anda lakukan pada pagi hari, ternyata sangat berpengaruh terhadap mood Anda sepanjang hari.

Pada dasarnya, setiap orang yang mencintai pekerjaannya pun pernah mengalami rasa malas untuk berangkat kerja. Maka, untuk menjaga konsitensi semangat bekerja, Anda harus bisa mengatur aktivitas pagi hari Anda.

Laman IDTechinAsia membahas aktivitas apa saja yang bisa dilakukan seseorang untuk menjaga produktivitasnya. Aktivitas itu meliputi waktu sebelum tidur, setelah bangun tidur, hingga persiapan bekerja.

Perbaiki Kebiasaan Tidur

Menurut studi dari National Sleep Foundation, durasi tidur yang ideal bagi orang dewasa adalah tuju hingga Sembilan jam per hari. Namun, sebaliknya tidur lebih dari itu justru akan merusak mood seseorang.

Studi tersebut lebih jauh menjelaskan, kurang jam tidur yang dialami seseorang justru akan membuatnya mengantuk, hilang konsentrasi, dan keduanya berdampak pada penurunan produktivitas.

Persiapkan Hari Esok Sejak Malam Hari

Jika Anda kesulitan tidur, jauh lebih baik Anda memanfaatkan waktu dengan mempersiapkan esok hari. Misalnya, mempersiapkan pakaian yang hendak Anda kenakan, atau kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Selain dapat membuat Anda lebih relaks, persiapan matang, misalnya, dalam hal pakaian akan membuat Anda bersemangat dan lebih percaya diri.

Rapikan Tempat Tinggalmu

Tak dipungkiri, melihat lingkungan yang rapi dan teratur akan membuat kita merasa nyaman. Selain nyaman, tentu saja rumah rapi akan berpengaruh pada kesehatan Anda. Maka, jika Anda memiliki waktu senggang, cobalah rapikan letak benda-benda di sekitar Anda.

Bayangkan Hari Esok yang Produktif dan Evaluasi Hari Ini

Produktif atau tidaknya seseorang dapat diukur melalui evaluasi. Maka, mulailah mengevaluasi diri Anda. Ingat berapa pekerjaan yang telah Anda selesaikan, aktivitas apa Anda lakukan, dan pencapaikan kecil apa yang berhasil Anda dapatkan. Setelah itu, bayangkan hari esok yang lebih baik dengan target peningkatan dari hari kemarin.

Baca
Sibuk VS Produktif

Orang yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik bisa dikatakan sebagai orang yang produktif. Namun, sering kali kita beranggapan mereka yang terus mengangkat telepon, membalas banyak email, dan kerja tanpa henti sebagai orang produktif.

Ternyata, sibuk bekerja bukanlah indikator utama produktivitas. Morgan Spurlock, pembuat film, presiden sekaligus pendiri Warrior Poets Entertainment, dalam tulisannya di LinkedIn mengatakan, “Saya tidak tahu kapan ini terjadi. Tapi, saat ini kita yakin menjadi sibuk adalah hal baik bagi kita.”

Bagi Spurlock dan timnya, tidak ada istilah ‘sibuk’. Ia justru mengganti kata sibuk dengan produktif. Ia menambahkan, perbedaan antara sibuk dan produktif pada dasarnya sangat terasa.

Ia bertutur, sibuk dapat digambarkan dengan orang-orang yang kewalahan mengerjakan banyak hal atau tidak punya waktu mengerjakan hal lain. Sementara produktif, lanjutnya, menggambarkan lingkungan yang penuh tujuan, baik pribadi dan profesional, dan berorientasi kepada hasil.

Ia mengibaratkan, orang produktif adalah mereka yang lebih fokus menghasilkan sesuatu daripada mengerjakan sesuatu.

Pada dasarnya, untuk menjadi produktif bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa metode dalam bekerja. Yang pertama adalah membuat skala prioritas dalam pekerjaan.

Coba bandingkan. Seorang yang punya target menyelesaikan tiga pekerjaan dan seorang yang ingin mengerjakan banyak hal.

Mereka yang sudah menentukan prioritas akan fokus menyelesaikan tanggung jawab utamanya. Sedangkan mereka yang tidak, justru akan melompat-lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan hasil tidak menyelesaikan apa pun.

Pembagian prioritas ini akan menjadikan seseorang justru bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Misalnya, 3 prioritas itu selesai pada siang hari, sisa waktu justru bisa dimanfaatkan mengerjakan 2 pekerjaan tambahan.

Kedua adalah fokus pada satu pekerjaan saja. Jadi, jika Anda merasa hebat ketika menjadi multitasking, bisa jadi Anda justru adalah pekerja yang buruk.

Menurut penelitian, seseorang yang terus dibombardir dengan banyak pekerjaan justru akan sulit memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan bahkan, menurut riset University of London, mengalami penurunan IQ.

Ketiga adalah strategi dalam mengambil keputusan. Jadi, orang produktif akan mengatakan “ya” dengan penuh pertimbangan. Sedangkan orang sibuk akan mengatakan “ya” pada semua hal.

Bagi orang produktif, kata “ya” adalah kata keramat. Mereka akan mempertimbangkan dampak serta potensi tanggung jawab yang justru membantu mereka mencapai tujuan utama.

Jadi, apabila Anda dihadapkan pada suatu tugas, cobalah minta rincian yang lebih detail mengenai tenggat waktu, tingkat kesulitan, dan risiko dari tanggung jawab tersebut.

Baca
Penelitian Harvard Soal Tidur Ini akan Membuka Mata Anda

Banyak orang percaya, tidur lebih awal akan membuat seseorang lebih sehat, bahagia, dan produktif. Namun, ternyata sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Harvard akan membuka mata Anda. Universitas yang berada di Cambridge, Amerika Serikat, itu melakukan penelitian terhadap 61 mahasiswa selama 30 hari, dan penelitian Harvard soal tidur ini akan membuka mata Anda.

Harvard mengkaitkan kebiasaan tidur objek penelitian mereka dengan prestasi akademis di kampus. Dari penelitian itu, didapatkan kesimpulan bahwa mahasiswa yang tidur secara teratur dan bagun pada jam yang sama hampir setiap hari, justru memiliki prestasi akademis yang lebih baik.

Jadi, faktor terpenting adalah bukan jam berapa seseorang tidur, melainkan keteraturan jam tidurnya. Pada awalnya, para peneliti menduga mereka akan mendapat hasil bahwa seseorang yang tidur larut malam memiliki waktu tidur yang lebih singkat. Tetapi, kenyataannya berbeda. Keduanya bahkan memiliki porsi tidur yang sama karena mereka yang tidurnya tidak teratur menggantinya pada siang hari.

Yang perlu dicatat, tidur siang hari tidak bisa memperbaiki performa akademis sebab tidur siang ternyata tidak bisa menggantikan fungsi tidur malam.

Survei lebih jauh menyebutkan, seseorang yang tidur pada jam malam atau “night time” terbukti memiliki nilai yang lebih bagus. Namun, jam malam yang ideal adalah mulai pukul 10.00 malam hingga 10.00 pagi.

Charles Czeisler, Kepala Divisi Gangguan Tidur dan Sirkadian Brigham dan Women’s Hospital, mengatakan, hasil dari penelitian menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi “anak baik-baik” yang selalu mengikuti pola. Jadi, ketika Anda tidur pukul dua pagi dan terbangun pukul 9 pagi, hal itu tidaklah menjadi masalah.

Bahaya lain dari tidur tak teratur adalah tubuh semakin cepat gemuk lantaran menunda siklus tidurnya. Kebiasaan tersebut menyebabkan perubahan pola makan dan metabolisme sehingga memicu kenaikan berat badan.

Hasil penelitian Harvard lebih jauh menjelaskan, orang yang terbiasa tidur pukul 10 malam dan bangun pukul 5 pagi terbukti seseorang yang memiliki disiplin tinggi.

Baca
Belajar Kepemimpinan dari 8 Miliarder Ini

Banyak orang mencapai kesuksesan berbekal keyakinan, kerja keras, serta kepercayaannya pada pandangan hidup. Tak heran, mereka, orang-orang sukses, banyak berbagi inspirasi mengenai pandangan hidupnya menuju kesuksesan.

Laman PortalHR, mengutip Talentculture.com, mengupas perilaku orang-orang sukses yang dapat menginspirasi Anda mencapai kesuksesan yang sama.

Jabatan Tidak Berarti Apa pun

John Rockefeller, Vice President Standard Oil, ternyata tidak pernah memegang saham pengendali dari perusahaan yang ia dirikan bersama rekannya. Namun, dalam setiap keputusan penting pemegang saham, Rockefeller selalu dilibatkan sebab mereka tahu ia yang membuat kesuksesan Standard Oil. Belajar dari hal tersebut, seorang pemimpin rupanya terkadang tidak perlu mengambil jabatan penting.

Mempromosikan Talent Sebagai Rekan Kerja

Sebagai seorang pemimpin perusahaan atau organisasi, coba pikirkan seluruh komponen sumber daya yang Anda miliki. Pikirkan dari level atas hingga bawah. Kemudian, bayangkan kekisruhan yang terjadi apabila seorang CEO sering merekrut kandidat tanpa melewati jajaran di bawahnya. Tentu saja keputusan sepihak itu akan berdampak negatif, khususnya dari sisi psikologis para pemimpin lainnya.

Ternyata, hal ini tidak berlaku pada Andrew Carnegie, salah satu orang terkaya di dunia. Kesuksesannya ternyata terjadi karena ia merekrut orang berdasarkan keputusannya sendiri. Bahkan, Talentculture.com berpendapat, jika Anda menginginkan kesuksesan kecil, jangan lakukan hal yang dilakukan Carnegie, tetapi lain soal bila Anda menginginkan kesuksesan besar.

Buat Keputusan Cepat

Larry Ellison, CEO Oracle, memang seorang pebisnis yang mengesankan. Ia bisa membeli banyak sekali perusahaan dalam hitungan minggu. Beberapa sumber mengatakan, tindakan Ellison disebabkan ia terbiasa menyediakan 15 menit dalam memutuskan membeli perusahaan.

Berinvestasi Jangka Panjang

Warren Buffet adalah seorang miliarder yang paling dicintai di Amerika. Dan, salah satu hal mengaggumkan darinya adalah strategi dalam berinvestasi. Ia tak membeli saham untuk menjualnya lagi ketika harga naik, tetapi melakukan itu untuk jangka panjang.

banner_artikel

Bekerja untuk Bisnis, Bukan dalam Bisnis

Richard Branson, pendiri Virgin, adalah contoh terbaik dalam hal ini. Pada awal membangun bisnisnya, ia hampir tak pernah pergi ke kantor, melainkan mengontrolnya dari rumah. Bahkan, ketika rapat pun ia mengundang para karyawannya ke rumah. Bagi Branson, kebebasan pada karyawan akan menghasilkan pencapaian luar biasa. Menurutnya, ide-ide para karyawan adalah alasan kenapa mereka direkrut, sehingga keputusan salah apabila pemimpin jutru sibuk mengimplementasikan hanya idenya sendiri.

Bersenang-senang dalam Menjalankan Bisnis

Kegembiraan dalam berbisnis adalah salah satu kunci kesuksesan seorang pengusaha. Branson, bisa tampak selalu bahagia jika ditemui dalam kesempatan apa pun. Tak heran, ia menamakan bisnisnya “Virgin” sebab ingin membawa semangat yang ia miliki ketika memulai bisnisnya dulu. Rasa optimis Branson, membuat banyak orang nyaman di dekatnya untuk tertular.

Baca
Lima Budaya yang Akan Membuat Perusahaan Berkembang Pesat

Kualitas perusahaan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Bahkan, menurut para ahli, yang dikutip IDTechinAsia, budaya perusahaan dapat mempengaruhi kualitas perusahaan hingga 30 persen.

Pada dasarnya, masih banyak karyawan yang mencari bagaimana identitas budayanya. Dan, hal tersebut justru menyebabkan turnover tinggi yang berdampak pada kerugian perusahaan. Menurut ahli, turnover karyawan akan menimbulkan penambahan biaya perekrutan serta menghambat laju produktif perusahaan.

Hofstade, seorang ahli, mengatakan, budaya perusahaan adalah perencanaan bersama dari pola pikir kolektif yang membedakan anggota-anggota suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari budaya yang lain. Atau, secara sederhana, bagaimana cara perusahaan berinteraksi dengan karyawan, meliputi perilaku, nilai-nilai, serta kepercayaan yang ditanamkan untuk mencapai visi dan misi bersama.

banner_artikel

Pada dasarnya, penanaman budaya perusahaan mesti menyeluruh, mulai dari pekerja di level manajemen hingga pekerja lapangan. Budaya perusahaan yang kuat dan positif, akan membuat karyawan semakin mencintai pekerjaannya.

Kevin King, Marketing Lead Bambu, seperti dikutip IDTechinAsia, mengatakan, setidaknya ada lima budaya yang akan membuat perusahaan berkembang pesat.

Beri Dukungan dari Atas

Berdasarkan survei, 89 persen karyawan yang diberi dukungan oleh atasan akan lebih puas pada pekerjaannya. Pada dasarnya, budaya perusahaan harus ditumbuhkan dari tingkatan hierarki atas.

Belajar Mendengarkan

Kayawan yang didengarkan adalah karyawan yang bahagia. Banyaknya divisi dalam perusahaan mengakibatkan mereka jarang berinteraksi. Maka, mengumpulkan karyawan untuk melakukan brainstorming bisa memunculkan ide-ide hebat yang tak terpikirkan sebelumnya.

Merekrut dengan Hati-hati

Terkadang, akibat proses rekrutmen yang terburu-buru, perusahaan mendapatkan kandidat yang tidak sesuai dengan budayanya. Hal itu akan berdampak cukup signifikan pada kemajuan perusahaan. Karyawan tersebut akan membawa rasa tidak nyaman bagi lingkungannya sehingga menimbulkan penurunan motivasi.

Menyadari Pentingnya Komunikasi

Menurut survei, 86 persen karyawan merasa kegagalan di tempat kerja berawal dari kolaborasi atau komunikasi yang tidak efisien. Mengkomunikasikan nilai-nilai dan visi perusahaan pada karyawan akan menstimulasi budaya kolaboratif di dalam perusahaan.

Fasilitasi Feedback

Manajemen top-down adalah manajamen di mana karyawan di level bawah hanya bisa tunduk pada atasan. Sistem manajemen ini sudah kuno, sebab idealnya, pada era modern ini, para atasan mesti terbuka dan mau mendengar bawahan. Membuat kebijakan open-door di perusahaan akan membuat karyawan berani menyampaikan keluhan dan masukan positif kepada perusahaan.

Baca
8 Jam Kantor Sama Artinya dengan 3 Jam Freelance

Saat ini, lazimnya perusahaan menetapkan aturan 8 jam kerja bagi setiap karyawan dalam sehari. Ditulis laman IDTechinAsia, penetapan waktu itu pada dasarnya tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi. Bahkan, penentuan jam ini sebenarnya terjadi pada era revolusi industri abad ke-18.

Pada abad ke-18, rata-rata pekerja bekerja 10-16 jam dalam sehari karena pabrik-pabrik terus berproduksi selama 24 jam. Namun, lantaran dianggap tidak layak, Robert Owen, mencetuskan jam kerja yang lebih pendek.

Slogan yang dicetuskan pria asal Wales itu, berbunyi, “Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, dan delapan jam istirahat.”

Lalu, hampir seabad kemudian, Ford Motor Company menerapkan delapan jam kerja serta melipatgandakan gaji karyawan. Hasilnya, terdapat capaian yang lebih optimal dan efektif.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

Kegiatan tersebut, yakni mengecek media sosial selama 44 menit, membaca situs berita 1 jam 5 menit, mengobrol hal di luar pekerjaan 40 menit, membuat minuman 17 menit, merokok 23 menit, mengirim SMS atau chatting 14 menit, makan camilan selama 8 menit, membuat makanan di kantor selama 7 menit, menelepon teman selama 18 menit, dan mencari pekerjaan baru selama 23 menit.

Mereka, para responden, beralasan, pengalihan fokus di atas justru mampu membantu mereka dalam menjalani keseharian.

Rupanya, tempat kerja dan kehidupan modern menawarkan banyak sekali pengalihan fokus, mulai dari gadget, makanan, hingga minuman.

Artinya, jika pun karyawan bekerja secara fokus dari rumah, mereka sudah bisa menggantikan produktivitas delapan jam kantor. Apalagi, dengan bekerja di rumah, karyawan tidak terbebani stres akibat kemacetan dan menghabiskan waktu di jalan.

Beberapa perusahaan di Swedia, bahkan telah menetapkan enam jam kerja pada karyawan. Dan, itu terbukti dari karyawan yang lebih sehat, puas, dan memiliki kinerja lebih baik.

Baca