Inilah Negara yang Para Pekerjanya Paling Kurang Berlibur

Setiap orang membutuhkan liburan. Apalagi bagi mereka yang menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja di kantor.

Menurut hasil penelitian, liburan wajib dilakukan oleh para pekerja. Sebab faktanya, banyak pegawai yang meningkat produktivitasnya usai berlibur.

Mengutip Lifehack.org, liburan nyatanya dapat mengembalikan fungsi jantung dan tekanan darah dalam keadaan normal.

Tahukah Anda, karyawan di negara mana yang kurang berlibur? Jika Anda berpikir Jepang, maka tebakan Anda tidak tepat.

Expedia, salah satu situs perjalanan terbesar di dunia pernah melakukan studi. Studi tersebut dilakukan terhadap 9.273 pekerja dari 26 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Ternyata, para pekerja di Korea Selatan hanya memanfaatkan 6 hari dari 15 hari jatah libur. Sedangkan Jepang memanfaatkan 12 hari dari 20 hari jatah libur.

Secara Global, rata-rata pekerja mendapatkan kurang dari 25 hari jatah libur termasuk hari libur nasional. Dari jumlah tersebut rata-rata hanya memanfaatkan 2 persen saja.

Fakta lainnya, rata-rata pekerja di Eropa justru memanfaatkan dengan baik jatah liburnya, seperti Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Swedia, Denmark, dan Finlandia.

Dalam pandangan para pekerja secara global, sebanyak 19 persen mereka sengaja menabung hari libur mereka. Dan, dengan persentase yang sama, mereka mengatakan terlalu sibuk untuk mengambil hari libur.

Kemudian, sebanyak 17 persen mengatakan mereka mengalami masalah keuangan untuk berlibur. Lalu, sebanyak 7 persen mengatakan takut dicap negatif oleh perusahaan ketika mengambil libur.

John Morrey, Vice President Expedia.com, mengatakan, sebagian pekerja merasa baik-baik saja mengambil hak libur, sementara sebagian lagi justru merasa bersalah.

“Padahl work-life balance adalah hal yang penting. Tidak hanya memberi kesempatan pekerja menikmati kehidupan di luar kantor, namun juga mengisi ulang energi agar dapat lebih produktif ketika bekerja,” ungkapnya.

Baca
Penelitian Harvard Soal Tidur Ini akan Membuka Mata Anda

Banyak orang percaya, tidur lebih awal akan membuat seseorang lebih sehat, bahagia, dan produktif. Namun, ternyata sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Harvard akan membuka mata Anda. Universitas yang berada di Cambridge, Amerika Serikat, itu melakukan penelitian terhadap 61 mahasiswa selama 30 hari, dan penelitian Harvard soal tidur ini akan membuka mata Anda.

Harvard mengkaitkan kebiasaan tidur objek penelitian mereka dengan prestasi akademis di kampus. Dari penelitian itu, didapatkan kesimpulan bahwa mahasiswa yang tidur secara teratur dan bagun pada jam yang sama hampir setiap hari, justru memiliki prestasi akademis yang lebih baik.

Jadi, faktor terpenting adalah bukan jam berapa seseorang tidur, melainkan keteraturan jam tidurnya. Pada awalnya, para peneliti menduga mereka akan mendapat hasil bahwa seseorang yang tidur larut malam memiliki waktu tidur yang lebih singkat. Tetapi, kenyataannya berbeda. Keduanya bahkan memiliki porsi tidur yang sama karena mereka yang tidurnya tidak teratur menggantinya pada siang hari.

Yang perlu dicatat, tidur siang hari tidak bisa memperbaiki performa akademis sebab tidur siang ternyata tidak bisa menggantikan fungsi tidur malam.

Survei lebih jauh menyebutkan, seseorang yang tidur pada jam malam atau “night time” terbukti memiliki nilai yang lebih bagus. Namun, jam malam yang ideal adalah mulai pukul 10.00 malam hingga 10.00 pagi.

Charles Czeisler, Kepala Divisi Gangguan Tidur dan Sirkadian Brigham dan Women’s Hospital, mengatakan, hasil dari penelitian menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi “anak baik-baik” yang selalu mengikuti pola. Jadi, ketika Anda tidur pukul dua pagi dan terbangun pukul 9 pagi, hal itu tidaklah menjadi masalah.

Bahaya lain dari tidur tak teratur adalah tubuh semakin cepat gemuk lantaran menunda siklus tidurnya. Kebiasaan tersebut menyebabkan perubahan pola makan dan metabolisme sehingga memicu kenaikan berat badan.

Hasil penelitian Harvard lebih jauh menjelaskan, orang yang terbiasa tidur pukul 10 malam dan bangun pukul 5 pagi terbukti seseorang yang memiliki disiplin tinggi.

Baca
Belajar Kepemimpinan dari 8 Miliarder Ini

Banyak orang mencapai kesuksesan berbekal keyakinan, kerja keras, serta kepercayaannya pada pandangan hidup. Tak heran, mereka, orang-orang sukses, banyak berbagi inspirasi mengenai pandangan hidupnya menuju kesuksesan.

Laman PortalHR, mengutip Talentculture.com, mengupas perilaku orang-orang sukses yang dapat menginspirasi Anda mencapai kesuksesan yang sama.

Jabatan Tidak Berarti Apa pun

John Rockefeller, Vice President Standard Oil, ternyata tidak pernah memegang saham pengendali dari perusahaan yang ia dirikan bersama rekannya. Namun, dalam setiap keputusan penting pemegang saham, Rockefeller selalu dilibatkan sebab mereka tahu ia yang membuat kesuksesan Standard Oil. Belajar dari hal tersebut, seorang pemimpin rupanya terkadang tidak perlu mengambil jabatan penting.

Mempromosikan Talent Sebagai Rekan Kerja

Sebagai seorang pemimpin perusahaan atau organisasi, coba pikirkan seluruh komponen sumber daya yang Anda miliki. Pikirkan dari level atas hingga bawah. Kemudian, bayangkan kekisruhan yang terjadi apabila seorang CEO sering merekrut kandidat tanpa melewati jajaran di bawahnya. Tentu saja keputusan sepihak itu akan berdampak negatif, khususnya dari sisi psikologis para pemimpin lainnya.

Ternyata, hal ini tidak berlaku pada Andrew Carnegie, salah satu orang terkaya di dunia. Kesuksesannya ternyata terjadi karena ia merekrut orang berdasarkan keputusannya sendiri. Bahkan, Talentculture.com berpendapat, jika Anda menginginkan kesuksesan kecil, jangan lakukan hal yang dilakukan Carnegie, tetapi lain soal bila Anda menginginkan kesuksesan besar.

Buat Keputusan Cepat

Larry Ellison, CEO Oracle, memang seorang pebisnis yang mengesankan. Ia bisa membeli banyak sekali perusahaan dalam hitungan minggu. Beberapa sumber mengatakan, tindakan Ellison disebabkan ia terbiasa menyediakan 15 menit dalam memutuskan membeli perusahaan.

Berinvestasi Jangka Panjang

Warren Buffet adalah seorang miliarder yang paling dicintai di Amerika. Dan, salah satu hal mengaggumkan darinya adalah strategi dalam berinvestasi. Ia tak membeli saham untuk menjualnya lagi ketika harga naik, tetapi melakukan itu untuk jangka panjang.

banner_artikel

Bekerja untuk Bisnis, Bukan dalam Bisnis

Richard Branson, pendiri Virgin, adalah contoh terbaik dalam hal ini. Pada awal membangun bisnisnya, ia hampir tak pernah pergi ke kantor, melainkan mengontrolnya dari rumah. Bahkan, ketika rapat pun ia mengundang para karyawannya ke rumah. Bagi Branson, kebebasan pada karyawan akan menghasilkan pencapaian luar biasa. Menurutnya, ide-ide para karyawan adalah alasan kenapa mereka direkrut, sehingga keputusan salah apabila pemimpin jutru sibuk mengimplementasikan hanya idenya sendiri.

Bersenang-senang dalam Menjalankan Bisnis

Kegembiraan dalam berbisnis adalah salah satu kunci kesuksesan seorang pengusaha. Branson, bisa tampak selalu bahagia jika ditemui dalam kesempatan apa pun. Tak heran, ia menamakan bisnisnya “Virgin” sebab ingin membawa semangat yang ia miliki ketika memulai bisnisnya dulu. Rasa optimis Branson, membuat banyak orang nyaman di dekatnya untuk tertular.

Baca
5 Kota Ini Menerapkan Jam Kerja Paling Sedikit di Dunia

Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, perusahaan menerapkan waktu kerja 8 jam pada karyawannya. Padahal, penetapan waktu itu tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

Laman Detik.com, mengutip UBS, mengungkapkan 5 kota ini menerapkan jam kerja paling sedikit di dunia.

Paris

Jika Anda memimpikan waktu kerja sedikit, Paris adalah pilihan tepat. Negara yang terkenal dengan modenya itu merupakan negara dengan jam kerja paling santai di dunia. Tercatat, pekerja di sana hanya menghabiskan 1.604 jam kerja setiap tahun

“Mereka yang suka kerja dengan waktu singkat, mungkin harus mencari kerja di Paris. Pekerja di sana hanya bekerja sekitar 35 jam setiap pekan dan memiliki 29 hari cuti dengan gaji,” ungkap UBS.

Pada 2000 silam, Prancis mendorong jam kerja karyawan selama 35 jam per pekan. Tujuannya adalah untuk merekrut sebanyak-banyaknya kandidat. Namun, berbeda dengan Paris, Hongkong memiliki jam kerja hingga 2.606 jam per tahun atau lebih 50 jam per pekan.

Lyon

Lyon adalah salah satu kota di Prancis yang menerapkan jam kerja singkat. Rata-rata pekerja di sana hanya menghabiskan jam kerja 1.631 jam per tahun. Selain itu, setiap pekerja juga memiliki jatah 29 hari cuti dengan gaji.

Moscow

Moscow menempati urutan ketiga. Pekerja di sana termasuk memiliki jam kerja singkat di dunia. Menurut catatan UBS, rata-rata pekerja Moscow menghabiskan 1.647 jam per tahun dengan jatah cuti 31 hari disertai gaji.

Helsinki

Helsinki adalah Ibukota negara Finlandia. Bagi Anda yang mendambakan bekerja dengan santai di tengah kondisi politik yang stabil, maka kota ini adalah pilihan tepat. Selain itu, keunggulan lain bekerja di Finlandia adalah kesempatan untuk mendapatkan banyak pelatihan.

Ternyata, pekerja di kota ini hanya bekerja 1.659 jam per tahun dengan jatah cuti 29 hari disertai gaji.

Wina

Wina merupakan Ibu Kota Austria yang memiliki populasi 1,8 juta jiwa. Di sana, rata-rata jam kerja karyawan adalah 1.678 jam per tahun dengan jatah cuti 27 hari disertai gaji.

Bahkan, menurut beberapa survei, Wina merupakan kota ternyaman ditinggali di dunia setelah Melbourne, Australia.

Wina dikenal memiliki reputasi bagus dalam standar kehidupan masyarakatnya, serta memiliki infastruktur solid dan kesehatan yang bagus.

Baca
5 Tips Konsisten dalam Menyelesaikan Pekerjaan

Untuk mencapai kesuksesan besar seseorang membutuhkan waktu yang panjang dan konsistensi. Selama ini, kebanyakan orang beranggapan bahwa pendidikan tinggi adalah faktor utama kesuksesan. Namun, hasil riset Thomas J. Stanley, Ph.D menghasilkan kesimpulan berbeda.

Hasil riset tersebut membuktikan, disiplin kuat menjadi faktor kedua terpenting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Bahkan, pendidikan tinggi tidak masuk dalam daftarnya. Disiplin artinya seseorang harus memiliki manajemen waktu dan konsisten terhadap langkah-langkah mencapai tujuan.

Bagi perusahaan, konsistensi karyawan tentu berdampak pada pencapaian target. Karyawan yang konsisten dalam pekerjaan tentu saja memiliki peluang lebih besar dalam mendapatkan karier cemerlang. Berikut 5 tips konsisten dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti dikutip laman IDTechinAsia.

Berpegang pada Tujuan

Memiliki visi yang jelas terhadap sesuatu akan mendorong seseorang konsisten dalam jangka panjang. Selain itu, penting untuk menentukan mengapa visi tersebut harus dipertahankan. Contohnya, Anda bisa lebih mudah menabung jika Anda membuat target untuk membeli sesuatu, misalnya rumah atau kendaraan.

Pilih Hal yang Perlu Diperjuangkan

Setiap manusia tentu saja memiliki keterbatasan energi dan kedisiplinan. Maka, menentukan fokus tujuan pada satu hal saja merupakan pilihan bijak. Bahkan, beberapa studi menyebutkan, seseorang yang mencoba berhenti merokok dan diet sekaligus justru akan gagal pada keduanya.

Jauh lebih baik memilih satu hal saja, jadikan kebiasaan, dan perjuangkan sampai berhasil. Bila Anda sudah melakukannya dengan konsisten, baru Anda bisa berpindah ke hal lain.

Jadwalkan Prioritas

Mendiang Stephen Covey, penulis The 7 Habits of Highly Effective People, mengatakan rahasia terbesar dari konsitensi. Jika Anda ingin mendekatkan diri pada suatu tujuan, maka Anda harus mendekatkan kehidupan keseharian Anda pada hal tersebut.

Ia lebih jauh menjelaskan, jangan pernah menjadikan prioritas sebagai selipan dalam jadwal kehidupan, tetapi jadikan hal itu yang utama. Dan, perbedaan kecil ini akan berdampak signifikan.

Abaikan Perasaan

Biasanya, ketika hendak mencapai sesuatu, Anda sering kali terbentur perasaan malas atau ingin menyerah. Dalam perasaan serupa itu, umumnya selalu ada kata-kata di kepala yang meminta Anda berhenti.

Untuk bisa konsisten, Anda harus bisa mengabaikan pikiran serupa itu. Apalagi, jika Anda baru mencapai tahap awal dari percobaan untuk konsisten. Namun, jika Anda sudah konsisten dalam waktu yang cukup lama, atau merasa apa yang Anda lakukan harus diakhiri, maka pilihan bijak untuk membuka lembaran baru.

Kejar Ketertinggalan

Apabila Anda sedang mengejar bentuk tubuh ideal, dan sekali waktu tidak pergi ke tempat kebugaran, jangan berputus asa. Anda bisa mengatur diri berlatih lebih keras untuk mengganti waktu libur tersebut. Yang perlu diingat, kejar ketertinggalan daripada sibuk menyalahkan diri sendiri.

 

Baca
5 Kota Ini Menerapkan Jam Kerja Paling Sedikit di Dunia

Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, perusahaan menerapkan waktu kerja 8 jam pada karyawannya. Padahal, penetapan waktu itu tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

banner_artikel

Laman Detik.com, mengutip UBS, mengungkapkan 5 kota ini menerapkan jam kerja paling sedikit di dunia.

Paris

Jika Anda memimpikan waktu kerja sedikit, Paris adalah pilihan tepat. Negara yang terkenal dengan modenya itu merupakan negara dengan jam kerja paling santai di dunia. Tercatat, pekerja di sana hanya menghabiskan 1.604 jam kerja setiap tahun

“Mereka yang suka kerja dengan waktu singkat, mungkin harus mencari kerja di Paris. Pekerja di sana hanya bekerja sekitar 35 jam setiap pekan dan memiliki 29 hari cuti dengan gaji,” ungkap UBS.

Pada 2000 silam, Prancis mendorong jam kerja karyawan selama 35 jam per pekan. Tujuannya adalah untuk merekrut sebanyak-banyaknya kandidat. Namun, berbeda dengan Paris, Hongkong memiliki jam kerja hingga 2.606 jam per tahun atau lebih 50 jam per pekan.

Lyon

Lyon adalah salah satu kota di Prancis yang menerapkan jam kerja singkat. Rata-rata pekerja di sana hanya menghabiskan jam kerja 1.631 jam per tahun. Selain itu, setiap pekerja juga memiliki jatah 29 hari cuti dengan gaji.

Moscow

Moscow menempati urutan ketiga. Pekerja di sana termasuk memiliki jam kerja singkat di dunia. Menurut catatan UBS, rata-rata pekerja Moscow menghabiskan 1.647 jam per tahun dengan jatah cuti 31 hari disertai gaji.

Helsinki

Helsinki adalah Ibukota negara Finlandia. Bagi Anda yang mendambakan bekerja dengan santai di tengah kondisi politik yang stabil, maka kota ini adalah pilihan tepat. Selain itu, keunggulan lain bekerja di Finlandia adalah kesempatan untuk mendapatkan banyak pelatihan.

Ternyata, pekerja di kota ini hanya bekerja 1.659 jam per tahun

Baca
4 Hal Terbaik yang Patut Ditiru dari Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, telah jadi salah satu sosok paling inspiratif bagi generasi milenial. Dia gambaran bagi seorang yang mampu mewujudkan mimpi besarnya, serta mencapai kesuksesan di usia muda. Forbes mencatat, pada usia 28 tahun saja, lelaki yang hampir selalu mengenakan kaus abu-abu itu memiliki kekayaan 9,4 milir US dollar.

Selain kisah sukses, sikap hidup Zuckerberg juga jadi sorotan dunia. Kesederhanaan serta kepedulian sosialnya membuatnya semakin menginspiasi. Berikut empat hal terbaik yang patut ditiru dari Mark Zuckerberg.

Miliki Niat Bermanfaat bagi Orang Banyak

Perusahaan besar bukan hanya yang menghasilkan keuntungan banyak, tetapi yang berhasil disukai orang banyak dan membawa perubahan bagi dunia. Itulah yang dilakukan Zuckerberg lewat Facebook.

Sejak awal, Zuckerberg memang tidak menciptakan Facebook untuk mencari uang, namun untuk orang banyak.

“Kita membuat jasa layanan bukan untuk mencari uang, tapi kita menghasilkan uang untuk menyediakan jasa layanan yang berguna,” kata Zuckerberg.

Mulai dari Hal yang Mudah untuk Membuat Kemajuan

Saya pikir hanya ada satu aturan sederhana dalam bisnis, yaitu lakukanlah sesuatu yang mudah terlebih dahulu. Dari sana kita akan membuat kemajuan,” ucap Zuckerberg.

Orang terkaya nomor 6 tahun 2016 versi Forbes itu, sebelum Facebook, lebih dulu menciptakan situs bernama CourseMatch. Aplikasi itu menyasar mahasiswa yang mencari teman berdasarkan kelas yang mereka ambil.

Setiap mahasiswa akan menampilkan profilnya yang berguna untuk mereka saling mengenal. Ternyata, CourseMatch ternyata sangat digemari dan cepat jadi populer.

Tak puas dengan CourseMatch, Zuckerberg menciptakan Facemash. Berbeda dari aplikasi sebelumnya, Facemash menampilkan foto dua mahasiswi Harvard. Kedua foto tersebut dibandingkan kecantikannya dengan cara voting.

Sayangnya, Zuckerber mendapatkan foto mahasiswi dengan cara meretas situs Harvard. Alhasil, universitas segera memblokir Facemash.

Lantaran menyadari situs yang memuat profil pribadi dibutuhkan banyak orang, Zuckerberg menciptakan situs dan aplikasi baru bernama The Facebook.

Tidak Melulu Berorientasi Uang

Sejak kemunculannya, Facebook langsung memikat sejumlah perusahaan besar. Pada 2007, Terru Semel, CEO Yahoo!, bahkan menawarkan diri mengakuisisi Facebook dengan penawaran miliaran dollar US.

Saat itu, hampir seluruh petinggi Facebook setuju, kecuali Zuckerberg. Dia mengatakan, “Ini bukan masalah uang.”

Zuckerberg memilih tak menjual mimpinya. Konskuensinya, dia harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan computer untuk menulis kode dan membuat fitur baru.

Bagi lelaki yang menyumbangkan uangnya untuk sosial itu, kunci kesuksesan Facebook adalah kerja keras.

“Rahasia kesuksesan Facebook adalah karena kami bekerja dengan sangat keras. Kedengarannya membosankan, ya? Karena memang yang kami lakukan hanyalah duduk selama 6 tahun dan menulis kode,” ujarnya.

Jangan Menghindari Risiko

Jalan kesuksesan Zuckerberg dan Facebook tidaklah mulus. Fitur Facebook Beacon, misalnya, justru mendapat kecaman dari pengguna. Kegagalan Beacon disikapi layaknya kegagalan Facemash dulu. Dibandingkan menyerah, Zuckerberg justru memodifikasinya menjadi Facebook Connect yang populer hingga sekarang.

Dari Zuckerberg, orang bisa belajar melihat kesuksesan dari sudut pandang lain. Lebih dari sekadar materi, dia memperlihatkan bahwa kesuksesan adalah bertahan melalui proses yang tak pernah selesai.

 

Baca
Tips Cerdas Beradaptasi dengan Pekerjaan Baru

Pekerjaan baru tentu saja akan diiringi dengan tantangan-tantangan baru. Tentu saja kecepatan beradaptasi dengan lingkungan baru akan membuat Anda berhasil menampilkan performa terbaik.

Pada masa percobaan, salah satu indikator keberhasilan seorang karyawan baru adalah ketika ia berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Tak heran, mereka yang kesulitan menunjukkan kualitas dalam beradaptasi, mesti menerima keputusan tidak diperpanjang bekerja. Lalu, bagaimana tips cerdas beradaptasi dengan pekerjaan baru?

Fokuskan Perhatian pada Lingkungan Sekitar

Pada awal masuk ke kantor baru, biasanya HRD akan membawa Anda berkenalan dengan rekan-rekan kantor lainnya. Pada saat itu, cobalah fokus dan amati sekitar Anda. Kenali budaya kerja dan pergaulan yang terbangun di lingkungan Anda. Misalnya, jika kantor Anda biasa bersuara pelan dalam berbicara, cobalah untuk menyamakan volume suara. Hal ini akan menghindarkan Anda dari kesan negatif dari kesimpulan yang terlalu cepat.

Bangun Kesempatan Menjalin Pertemanan

Cobalah untuk lebih aktif dalam berkenalan dengan rekan-rekan baru Anda. Tetapi ingat, jalin pertemanan secara spontan dan tidak agresif. Gunakan obrolan pembuka yang tidak sensitif dan memicu perdebatan tidak perlu. Misalnya, agama, politik, atau gosip.

Mulailah dengan Mencatat

Mulailah catat pekerjaan dan tanggung jawab baru yang diberikan kepada Anda. Jangan hanya simpan dalam kepala, sebab menurut riset Princeton University dan UCLA, yang dikutip IDTechinAsia, menulis dengan tangan dapat membantu mendorong pemahaman yang baik, serta membantumu mengidentifikasi konsep-konsep penting dalam pekerjaan.

Saat ini, banyak orang yang lebih sering mencatat gagasan di komputer. Padahal, mencatat di komputer rupanya rawan membuyarkan konsentrasi. Melakukan itu, artinya Anda hanya sekadar memindahkan tulisan tanpa memahaminya.

Tentukan 3 Kualitas Anda

Berada di lingkungan baru mengharuskan Anda menentukan kualitas apa pada diri Anda yang ingin diperlihatkan. Maka, fokuslah pada 3 kualitas terbaik Anda. Misalnya, Anda ingin dikenal sebagai pekerja keras, solutif, dan teliti, maka Anda harus benar-benar membuktikan itu dari hasil kerja Anda.

Baca
Tips Menghadapi Karyawan yang Sulit Diatur

Keberhasilan sebuah perusahaan tidak bertumpu pada satu individu saja. Perusahaan yang memiliki performa bagus, tentu memiliki tim yang solid dalam bekerja sama mencapai target.

Pada perusahaan startup, yang memiliki target dan penilaian ketat untuk berkembang, sering kali terjadi benturan antar karyawan. Biasanya, bentrokan terjadi karena perbedaan pendapat, latar belakang, hingga pengalaman.

Selain itu, dalam perusahaan biasanya hampir selalu ada karyawan atau sekelompok karyawan yang sulit diatur. Apabila tidak segera ditangani, maka akan berdampak konflik yang lebih besar. Namun, dalam menangani mereka, sebaiknya Anda menggunakan strategi yang tepat agar tidak mengancam stabilitas perusahaan.

Kenali Akar Masalah

Menurut IDTechinAsia, salah satu langkah yang bisa Anda ambil untuk mengatasi karyawan sulit diatur adalah mengenali akar masalah. Coba cari tahu, apa alasan karyawan tersebut sulit diajak bekerja sama, apakah karena sifatnya yang buruk, etos kerja payah, atau kemampuan yang tidak mumpuni. Yang perlu Anda pahami, masalah bisa muncul karena adanya perbedaan sudut pandang.

banner_artikel

Selalu Tenang

Mungkin, suatu kali Anda mendapatkan kritikan tajam dari seorang atau sekelompok karyawan. Namun, usahakan tetap tenang dan rasional tanpa terpancing secara emosional. Jika Anda melakukan hal ceroboh, maka itu justru akan menimbulkan kekisruhan lebih besar.

Ukur Lingkup dan Dampak

Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya Anda mengukur lingkup dan dampak dari masalah yang ada. Apabila lingkup dan dampak dari sikap karyawan tersebut berada pada taraf membahayakan, segera ambil keputusan tegas. Tetapi, jika dampaknya tidak berarti, maka Anda bisa melakukan komunikasi yang lebih intens untuk menyelesaikan masalah.

Dengarkan Pendapat Karyawan Lain

Apabila Anda sulit mengambil keputusan, maka mendengarkan karyawan lain adalah pilihan bijak. Dari mereka, Anda bisa menilai seberapa besar masalah akan mempengaruhi performa perusahaan. Namun, sebaiknya Anda bersikap netral dan tidak mengarahkan pada suatu pendapat, sehingga jawaban yang Anda dapatkan akan lebih objektif.

Usahakan Anda memilah pertanyaan dengan hati-hati, sehingga karyawan tidak menyimpulkan sesuatu yang negatif terhadap objek yang dibicarakan. Bayangkan, apabila karyawan ‘bermasalah’ itu tetap di kantor dengan kondisi rekan lain tidak menyukainya, maka akan berdampak pada menurunnya kinerja tim Anda.

Baca