Startup Harus Pertimbangkan 5 Hal Ini Saat Memilih Kantor

Tren pertumbuhan startupsemakin marak di dunia. Bahkan, menurut laporan startup ranking, Indonesia menempati posisi kelima dalam pertumbuhan startup. Tercatat, Indonesia memiliki sekitar 1.705 startup, itu artinya Indonesia berada urutan keempat di bawah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713, dan Inggris 2.971.

Indonesia memiliki jumlah startup yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Misalnya, Singapura 508, Filipina 193, Malaysia 144, Thailand 81, Vietnam 73.

Kabar baik berikutnya, ada tujuh startupyang sudah berstatus unicorn, yakni startupyang memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk startupadalah pilihan kantor. Faktanya, menurut hasil sejumlah riset, kantor sangat berpengaruh terhadap produktvitas karyawan. Namun, setiap startupjuga mesti memiliki pertimbangan dalam memilih kantor agar mendapatkan kantor yang ideal. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada 5 pertimbangan yang bisa diambil sebagai berikut:

Anggaran

Tentu saja, setiap startupselalu ingin mengacu pada Google dalam memilih kantor. Hanya saja, pilihan yang tidak mempertimbangkan anggaran justru akan membuat perusahaan gulung tikar. Jangan tergoda membeli atau menyewa kantor mewah, sebab tentu saja, di luar biaya property, masih ada biaya renovasi dan pemeliharaan yang mesti dikeluarkan. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan agen properti dalam memilih kantor.

Analisis Pertumbuhan Perusahaan

Ketika perusahaan mulai tumbuh, jangan dulu gegabah berpindah kantor yang lebih besar. Analisis secara teliti tim mana saja yang akan mengalami pertumbuhan pesat. Jadi, jauh lebih baik memilih kantor sesuai kebutuhan. Artinya, jangan pilih kantor yang terlalu besar atau bahkan yang terlalu kecil.

Lokasi Strategis

Lokasi strategis bukan berarti artinya berada di tengah kota. Lokasi strategis dipengaruhi oleh letak atau jarak dengan kantor klien serta jarak dengan domisili rata-rata karyawan. Faktanya, salah satu faktor alasan karyawan mengundurkan diri adalah lokasi tempat kerjanya. Maka, buatlah pilihan bijak ketika memutuskan pindah kantor dengan lebih dulu berkonsultasi kepada karyawan.

Akses Fasilitas

Pastikan kantor Anda berlokasi tidak jauh dari fasilitas yang dibutuhkan oleh karyawan. Misalnya, dekat dengan rumah sakit, bank, transportasi, tempat ibadah, dan lain-lain. Bayangkan, jika seorang karyawan membutuhkan aktivitas perbankan di bank dan lokasinya sangat jauh, tentu hal itu akan terpaksa mengurangi jam produktifnya.

Office Branding

Sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh, tentu sangat penting untuk membangun reputasi di mata klien. Dan, pembangunan reputasi ini mesti sejalan dengan arah bisnis perusahaan. Misalnya, perusahaan agensi periklanan mesti mendekorasi kantornya jauh dari kesan kaku sebab klien yang datang ke sana pasti membutuhkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.

Baca
Inilah Kombinasi Warna yang Tepat untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Kantor ideal harusnya bisa menjadi ‘rumah kedua’ bagi karyawan. Tak heran, banyak perusahaan sekarang mempersiapkan kantornya sedemikian rupa guna membuat karyawan betah dan produktif.

Pemilihan warna tidak bisa dipisahkan dari dekorasi. Secara psikologis, pemilihan warna bukanlah persoalan kenyamanan visual dan estetika semata, melainkan sangat berdampak pada pembangunan suasana kantor. Berikut pengaruh warna dalam membangun suasana kantor.

Lebih Energik dengan Merah dan Oranye

Elizabeth Brown, pendiri EB Color Consulting yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat, mengatakan, warna merah dan oranye dapat menciptakan suasana energik. Namun, ia menambahkan, jangan terlalu banyak memasukkan warna merah sebab bisa memicu agresi dan stres.

Leslie Harrington, Exevutive Director sebuah perusahaan konsultan warna di Amerika, lebih jauh menjelaskan, sebaiknya warna merah ditempatkan di ruang-ruang di mana karyawan menghabiskan sedikit waktu. Misalnya, kamar mandi, dapur, atau tempat di mana karyawan tidak bekerja.

Beri Rasa Bahagia dengan Kuning

Secara psikologis, warna kuning bisa menciptakan rasa bahagia. Namun, menempatkan warna kuning di seluruh ruangan dan dekorasi justru akan merusak mood seseorang. Secara psikologis, warna kuning berkaitan erat dengan rasa percaya diri dan keceriaan. Maka, sebaiknya warna ini diterapkan di furnitur kantor seperti, misalnya, kursi. Dan, menurut saran Mark Woodman, Ketua Color Marketing Group, pilih warna kelam, seperti biru muda sebagai kombinasi warna kuning.

Tingkatkan Kreativitas dengan Biru dan Hijau

Warna alam, seperti hijau dan biru, akan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi, jika Anda menempatkan warna hijau alami seperti pada tanaman. Bahkan Personality and Social Psychology Bulletin, pada 2012, melakukan penelitan terhadap dampak warna hijau. Hasilnya, peserta yang biasa melihat warna hijau menunjukkan kreativitas dan produktivitas yang lebih dibandingkan mereka yang tidak.

Redakan Stres dengan Warna Pastel

Warna-warna muda ini sebaiknya ambil bagian pada dekorasi kantor. Warna seperti peach akan memberikan ketenangan dan meredakan stress karyawan. Buatlah warna pastel sebagai komposisi warna dinding secara seimbang. Jangan buat terlalu banyak kontras karena itu justru akan membuat mata lelah.

Baca
Inilah Aturan Ketersediaan Toilet di Perusahaan yang Wajib HR Tahu

Sudah sepatutnya perusahaan mengakomodir kebutuhan dasar karyawannya, termasuk kesehatan dan kenyamanan dalam bekerja.

Salah satu yang penting perusahaan pikirkan adalah rasio jumlah toilet. Banyak yang HR yang tidak tahu bahwa rasio jumlah toilet ada aturannya.

PortalHR pernah menulis perihal aturan ini. Mengutip HR Manager PT Richtex Garmindo, Athanasius Sumardi, “Sudah saatnya isu (rasio jumlah toilet dengan jumlah karyawan) ini diangkat. Karena selama ini yang dipersoalkan selalu soal upah. Menurut saya jika karyawan sudah merasa comfort (nyaman) dengan tempat kerjanya, dan kesehatan mereka lebih diperhatikan, hal lain bisa dibicarakan dengan kepala yang lebih dingin,” tuturnya.

Menurut Athanasius, jumlah toilet sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Bayangkan, berapa banyak waktu terbuang ketika karyawan mengantre untuk ke toilet.

Selain itu, menahan kebutuhan ke toilet lantaran malas antre atau toilet jorok akan menimbulkan masalah kesehatan.

“Karena menahan hasrat untuk ke toilet bisa berdampak pada kesehatan, yaitu menyebabkan sembelit, sakit ginjal, dan sebagainya. Lalu kaitannya dengan HAM, bahwa karyawan harus memperoleh fasilitas yang layak untuk kesehatannya,” paparnya.

Rasio jumlah toilet dan karyawan harus benar-benar dipikirkan. Yuwono Wadiasta, HR Corporate Manager PT Mega International Corporation, mengatakan, perusahaan minimal harus menyediakan toilet dengan perbandingan 1:15.

Pada dasarnya, soal toilet sudah diatur pada Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja.

Aturan dijelaskan pada pasal 6 yang di tiap butir  ayatnya berbunyi, (1) Kakus-kakus yang terbuat dari bahan yang kuat harus disediakan untuk kaum buruh. (2) Kakus-kakus tersebut harus terpisah untuk laki-laki dan perempuan sehingga tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesusilaan. (3) Kakus-kakus itu tidak boleh berhubungan langsung dengan tempat kerja dan letaknya harus dinyatakan dengan jelas. (4) Kakus-kakus itu selalu dibersihkan oleh pegawai-pegawai tertentu. (5) Kakus-kakus harus mendapat penerangan yang cukup dan pertukaran udara yang baik. Kemudian pada ayat (6) Jumlah kakus adalah sebagai berikut: untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus, 16 – 30 = 2 kakus, 31 – 45 = 3 kakus, 46 – 60 = 4 kakus, 61 – 80 = 5 kakus, 61 – 100 = 6 kakus dan untuk selanjutnya untuk tiap 100 orang buruh harus disediakan minimal enam kakus.

Athanasius melanjutkan, regulasi tersebut masih sering diabaikan perusahaan. Ia berpendapat, hanya beberapa perusahaan tertentu saja yang menerapkannya. Misalnya perusahaan asing.

“Meskipun tidak 100 % sesuai dengan persyaratan undang-undang, itu pun karena semata-mata untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh pihak auditor dari buyer, dan bukan karena kesadaran dan kepedulian dari pihak perusahaan terhadap karyawannya,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Athanasius, kendala perusahaan belum menerapkan aturan ini adalah karena ketersediaan lahan, biaya perawatan dan pemeliharaan, dan lain-lain. Bahkan di sebuah pabrik, ia pernah menemukan jumlah toilet dengan rasio 1:40.

Baca
Ciri Karyawan Hendak Mengundurkan Diri dan Cara Mengatasinya

Setiap perusahaan tentu mendambakan karyawan yang bisa menjadi talenta masa depan mereka. Tak heran, perusahaan menyiapkan biaya pelatihan untuk mengembangkan kemampuan karyawannya.

Hanya saja, salah satu tantangan HR selain mempersiapkan karyawan berkualitas adalah menjaga karyawan tetap bertahan di perusahaan.

Pada dasarnya, setiap karyawan yang hendak keluar akan menunjukkan beberapa gejala antara lain:

Datang Terlambat dan Sering Mengaku Sakit

Seseorang yang puas dengan pekerjaannya akan selalu bersemangat ke kantor. Namun, sebaliknya, mereka yang tidak puas akan selalu mencari alasan tidak masuk.

Jika karyawan Anda mulai sering dating terlambat dan sering mengaku sakit, cobalah waspada. Lihat pula alasannya. Apabila alasannya adalah macet dan urusan keluarga, maka besar kemungkinan ia tengah mencari peruntungan lain.

Menghabiskan Waktu Lama saat Makan Siang

Karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk menghindari kantor. Saat makan siang, misalnya, ia akan memanfaatkan waktu tersebut untuk mengobrol.

Produktivitasnya Menurun

Lantaran sering terlambat dan pulang lebih cepat. Karyawan yang hendak keluar akan menujukkan penurunan produktivitas. Ia yang tidak betah, akan sibuk melihat jam tangan dan berharap waktu pulang segera tiba, sehingga bisa cepat meninggalkan kantor.

Menarik Diri dari Lingkungan

Karyawan yang hendak keluar akan cenderung menarik diri dari lingkungan. Ia akan merasa tidak nyaman sekaligus merasa bersalah jika harus berinteraksi dengan lingkungan yang hendak ia tinggalkan.

Pada dasarnya, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga karyawan betah di kantor sebagai berikut:

Prospek Karier yang Jelas

Setiap karyawan tentu ingin melihat “masa depan” mereka di sebuah perusahaan. Tak heran, mereka akan memikirkan bagaimana prospek karier mereka apabila bertahan di sebuah perusahaan.

Cobalah untuk melibatkan karyawan pada proyek-proyek yang menarik dan menantang. Selain itu, berikan pelatihan untuk menunjang kemampuannya naik ke jenjang karier berikutnya.

Akui Kemampuan Mereka

Cobalah mengapresiasi setiap pencapaian karyawan. Pekerjaan yang diapresiasi akan memotivasi karyawan untuk membuat pencapaian baru.

Beri Mereka Kritik yang Membangun

Selain materi serta rasa aman dan nyaman, setiap pekerja ingin meningkatkan kemampuan dirinya selama bekerja. Jadi, tidak ada salahnya memberikan kritik kepada karyawan selama tujuannya membangun. Kritik yang membangun justru akan meningkatkan semangat karyawan sehingga bisa menciptakan inovasi baru.

Baca
Fakta Tentang Perekrutan di Asia

Perubahan zaman tentu membawa perubahan pada karakteristik kelas pekerja. Pada generasi sebelumnya, misalnya, setiap pekerja lebih memprioritaskan jaminan ‘keamanan’ dalam bekerja dan cenderung patuh pada aturan.

Zaman ini pun melahirkan karakteristik pekerja yang berbeda. Kecepatan dan kemudahan akses informasi, tentu saja memberikan dampak pada cara seseorang bersikap dalam pekerjaan.

Deloitte 2017 Global Human Capital Trends Report menjelaskan, saat ini bagian ketenagakerjaan dan perekrutan tengah menghadapi tekanan besar. Hal tersebut diakibatkan kurangnya tenaga kerja dan para ahli yang tersebar luas.

Mereka melanjutkan, banyak pekerja era kini yang menuntut adanya jenis pekerjaan dan model karier baru.

Fakta lain yang mengejutkan adalah banyak pekerja yang tidak menuntut finansial semata dari perusahaan. Mereka cenderung mencari perusahaan atau organisasi dengan nilai-nilai sesuai, work-life balance, otonomi kreatif, dan masih banyak lagi.

Berikut penjelasan detail mengenai karakteristik generasi pekerja terkini:

Digital Mengendalikan Perekrutan

Jumlah pengguna internet di dunia terus meningkat drastis. Menurut data We Are Social pada 2017, 51 persen populasi dunia telah menggunakan internet. Artinya, jumlah itu menyentuh angka 3,8 miliar orang.

Penggunaan internet yang masif tentu berpengaruh pada bidang apa pun, termasuk perekrutan. Tak heran, The Star melaporkan bahwa transformasi digital di berbagai industri di Asia Tenggara akan mengendalikan perekrutan.

Laporan ini tentu saja didukung oleh fakta kemampuan yang paling banyak diminta, yakni big data, komputasi awan, perdagangan elektronik, keamanan cyber, dan teknologi keuangan.

Kandidat Selalu Mencari Kesempatan Baru

Menurut survei Jobstreet dan JobsDB kepada 8.000 pekerja dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, dihasilkan kesimpulan bahwa hampir seluruh mereka tidak setuju dengan pernyataan: saya tidak punya rencana meninggalkan pekerjaan dan perusahaan saya saat ini di tahun yang akan datang.

Fakta lain untuk mendukung kesimpulan kecendurungan kandiat mencari kesempatan baru adalah hampir semua responden aktif dalam melihat-lihat bursa kerja yang tersedia.

Tenaga Kerja Paling Sulit Direkrut

Ketika responden ditanya, posisi apa yang paling sulit direkrut. Mayoritas perekrut di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, mengatakan, posisi supervisor dan spesialis adalah yang tersulit. Sedangkan Singapura dan Thailand memilih posisi junior, sementara Vietnam mengatakan manajer.

Baca
Prinsip 5W 1H Bagi Manajer untuk Menyampaikan Berita Buruk

Seorang manajer memiliki tugas berat dalam menjaga motivasi timnya. Tekadang, manajer bukan hanya harus menyampaikan berita baik, tetapi juga berita buruk.

Dalam menyampaikan berita buruk, seorang manajer harus mampu menjaga timnya agar tetap termotivasi.

Tak jarang, seorang manajer mesti menyampaikan keputusan permberhentian karyawan. Pada kondisi seperti itu, ia mesti cermat dalam menyampaikan kabar agar tidak menyakiti karyawannya.

Melansir tulisan PortalHR.com, dalam menyampaikan berita buruk, seorang manajer idealnya bisa menerapkan prinsip 5W + 1H.

Prinsip 5W + 1H sebenarnya adalah prinsip yang digunakan oleh jurnalis dalam membuat berita. Namun, rupanya prinsip tersebut bisa diterapkan dalam konteks apa pun, termasuk penyampaian kabar buruk.

Pertama, W atau Who. Seorang manajer adalah penyampai pesan itu sendiri. Ada baiknya, ia tidak menggunakan pihak lain dalam menyampaikan pesan, sebab memberi kesan tidak menghargai bagi karyawan.

Kedua, W atau What. Pesan harus disampaikan dengan jelas. Jangan menimbulkan persepsi beragam dalam pesan yang disampaikan. Perhatikan pula gestur dalam penyampaian pesan. Gestur yang baik akan menunjukkan empati seseorang dalam sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan.

Ketiga, W atau Where. Lokasi penyampaian pesan juga sangat berpengaruh dalam memberikan kabar buruk. Hindari menyampaikan pesan melalui email atau telepon. Jauh lebih baik komunikasi dilakukan secara langsung melalui tatap muka.

Keempat, W atau When. Waktu yang tepat adalah kunci dari keberhasilan penyampaian pesan. Hindari waktu pagi hari, atau hari di mana karyawan mendapatkan kabar buruk. Seorang manajer juga bisa bertanya pada rekan karyawan tersebut kapan waktu yang tepat.

Kelima, W atau Why. Jangan lupa berikan alasan yang paling bisa diterima. Jangan menyampaikan alasan klise yang justru bisa menimbulkan ragam persepsi.

Keenam, H atau How. Pilih setiap kata dengan cermat dan bijak. Cara penyampaian bisa disesuaikan dengan karakteristik karyawan bersangkutan atau kedekatan antara seorang manajer dengan karyawan tersebut.

Baca
Change Fatigue pada Karyawan dan Cara Mengatasinya

Peningkatan performa perusahaan adalah salah satu faktor utama peningkatan revenue perusahaan. Namun, sering kali karyawan justru sulit menunjukkan performa terbaiknya seiring tekanan yang semakin meningkat.

Seiring perubahan zaman, banyak penyakit bermunculan pada karyawan, salah satunya adalah change fatigue. Penyakit ini disebabkan oleh ketidakmampuan karyawan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Dari hasil survei yang dikutip  PortalHR, dampak miris dari penyakit ini adalah 41% karyawan kelelahan dengan perubahan yang terjadi, dan 35% memilih tetap bertahan sebab tidak ada pilihan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Towers Watson mengadakan penelitian yang melibatkan 30 partisipan dari berbagai negara. Hasilnya, ada beberapa solusi yang diterapkan oleh organisasi, yakni peningkatan gaji, bonus, dan jenjang karier. Namun, masalahnya perusahaan tidak mampu mengakomodir seluruhnya.

Menurut Jennifer Frei, Direktur Asia Pasific Practice, perusahaan dapat menerapkan korelasi yang baik antara departemen HR dan marketing. Ia mengatakan, sales pun dapat bekerja baik apabila budaya perusahaan mampu mendorong produktivitasnya.

Jennifer lebih jauh menjelaskan, prinisp terbaiknya adalah measures should drive focus and carry a meaningful reward for performance. Ia berpendapat, ambang batas kinerja sales setiap industri berbeda-beda.

Faktor-faktor dominan dalam organisasi dapat mengukur performa terbaik, seperti kemampuan menjual. Dengan penghargaan (reward) dalam penjualan, akan merangsang kemampuan negosiasi sales. Jenis-jenis komisi atau insentif target juga dapat menjadi alternatif. Namun, pastikan strategi ini dapat teraplikasi secara optimal.

Baca
Lima Budaya yang Akan Membuat Perusahaan Berkembang Pesat

Kualitas perusahaan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Bahkan, menurut para ahli, yang dikutip IDTechinAsia, budaya perusahaan dapat mempengaruhi kualitas perusahaan hingga 30 persen.

Pada dasarnya, masih banyak karyawan yang mencari bagaimana identitas budayanya. Dan, hal tersebut justru menyebabkan turnover tinggi yang berdampak pada kerugian perusahaan. Menurut ahli, turnover karyawan akan menimbulkan penambahan biaya perekrutan serta menghambat laju produktif perusahaan.

Hofstade, seorang ahli, mengatakan, budaya perusahaan adalah perencanaan bersama dari pola pikir kolektif yang membedakan anggota-anggota suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari budaya yang lain. Atau, secara sederhana, bagaimana cara perusahaan berinteraksi dengan karyawan, meliputi perilaku, nilai-nilai, serta kepercayaan yang ditanamkan untuk mencapai visi dan misi bersama.

banner_artikel

Pada dasarnya, penanaman budaya perusahaan mesti menyeluruh, mulai dari pekerja di level manajemen hingga pekerja lapangan. Budaya perusahaan yang kuat dan positif, akan membuat karyawan semakin mencintai pekerjaannya.

Kevin King, Marketing Lead Bambu, seperti dikutip IDTechinAsia, mengatakan, setidaknya ada lima budaya yang akan membuat perusahaan berkembang pesat.

Beri Dukungan dari Atas

Berdasarkan survei, 89 persen karyawan yang diberi dukungan oleh atasan akan lebih puas pada pekerjaannya. Pada dasarnya, budaya perusahaan harus ditumbuhkan dari tingkatan hierarki atas.

Belajar Mendengarkan

Kayawan yang didengarkan adalah karyawan yang bahagia. Banyaknya divisi dalam perusahaan mengakibatkan mereka jarang berinteraksi. Maka, mengumpulkan karyawan untuk melakukan brainstorming bisa memunculkan ide-ide hebat yang tak terpikirkan sebelumnya.

Merekrut dengan Hati-hati

Terkadang, akibat proses rekrutmen yang terburu-buru, perusahaan mendapatkan kandidat yang tidak sesuai dengan budayanya. Hal itu akan berdampak cukup signifikan pada kemajuan perusahaan. Karyawan tersebut akan membawa rasa tidak nyaman bagi lingkungannya sehingga menimbulkan penurunan motivasi.

Menyadari Pentingnya Komunikasi

Menurut survei, 86 persen karyawan merasa kegagalan di tempat kerja berawal dari kolaborasi atau komunikasi yang tidak efisien. Mengkomunikasikan nilai-nilai dan visi perusahaan pada karyawan akan menstimulasi budaya kolaboratif di dalam perusahaan.

Fasilitasi Feedback

Manajemen top-down adalah manajamen di mana karyawan di level bawah hanya bisa tunduk pada atasan. Sistem manajemen ini sudah kuno, sebab idealnya, pada era modern ini, para atasan mesti terbuka dan mau mendengar bawahan. Membuat kebijakan open-door di perusahaan akan membuat karyawan berani menyampaikan keluhan dan masukan positif kepada perusahaan.

Baca
8 Jam Kantor Sama Artinya dengan 3 Jam Freelance

Saat ini, lazimnya perusahaan menetapkan aturan 8 jam kerja bagi setiap karyawan dalam sehari. Ditulis laman IDTechinAsia, penetapan waktu itu pada dasarnya tidak berdasarkan pada waktu optimal manusia dalam berkonsentrasi. Bahkan, penentuan jam ini sebenarnya terjadi pada era revolusi industri abad ke-18.

Pada abad ke-18, rata-rata pekerja bekerja 10-16 jam dalam sehari karena pabrik-pabrik terus berproduksi selama 24 jam. Namun, lantaran dianggap tidak layak, Robert Owen, mencetuskan jam kerja yang lebih pendek.

Slogan yang dicetuskan pria asal Wales itu, berbunyi, “Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, dan delapan jam istirahat.”

Lalu, hampir seabad kemudian, Ford Motor Company menerapkan delapan jam kerja serta melipatgandakan gaji karyawan. Hasilnya, terdapat capaian yang lebih optimal dan efektif.

Pada dasarnya, dengan tantangan dan perkembangan zaman era ini, waktu delapan jam sudah dinilai tidak lagi efektif. Bahkan, secara ekstrem, sejumlah riset menyebutkan rata-rata waktu produktif karyawan hanya berkisar 3 jam saja.

Sebuah survei di Inggris menghasilkan kesimpulan, hanya 21 persen karyawan yang bisa benar-benar produktif sepanjang hari, sedangkan sisanya tidak bisa. Ternyata, rata-rata mereka menghabiskan waktu delapan jam untuk melakukan aktivitas lain.

Kegiatan tersebut, yakni mengecek media sosial selama 44 menit, membaca situs berita 1 jam 5 menit, mengobrol hal di luar pekerjaan 40 menit, membuat minuman 17 menit, merokok 23 menit, mengirim SMS atau chatting 14 menit, makan camilan selama 8 menit, membuat makanan di kantor selama 7 menit, menelepon teman selama 18 menit, dan mencari pekerjaan baru selama 23 menit.

Mereka, para responden, beralasan, pengalihan fokus di atas justru mampu membantu mereka dalam menjalani keseharian.

Rupanya, tempat kerja dan kehidupan modern menawarkan banyak sekali pengalihan fokus, mulai dari gadget, makanan, hingga minuman.

Artinya, jika pun karyawan bekerja secara fokus dari rumah, mereka sudah bisa menggantikan produktivitas delapan jam kantor. Apalagi, dengan bekerja di rumah, karyawan tidak terbebani stres akibat kemacetan dan menghabiskan waktu di jalan.

Beberapa perusahaan di Swedia, bahkan telah menetapkan enam jam kerja pada karyawan. Dan, itu terbukti dari karyawan yang lebih sehat, puas, dan memiliki kinerja lebih baik.

Baca