SAATNYA TERKONEKSI DENGAN BISNIS MASA DEPAN

Selamat datang di Conexus Solusi.

Kami akan membantu Anda menjalankan bisnis secara efektif dan efisien melalui digital platform solution berbasis cloud.

. Telusuri

conexus/’conex-us/

Anda, bisnis Anda, dan kami, akan selalu terkoneksi dalam solusi yang melibatkan gagasan, kreativitas, keinginan, harapan, dan impian untuk menciptakan masa depan bisnis terbaik sejak hari ini. Kita akan selalu terkoneksi, sebab kami Conexus Solusi.
. Telusuri
MENGAPA CONEXUS

BERPENGALAMAN

Anda akan bekerja sama dengan tim yang memiliki pengalaman beragam, semangat berinovasi, berkompetensi, serta berdedikasi dalam menciptakan solusi terbaik bagi kebutuhan Anda

KONSULTAN TERPERCAYA

Kami menggunakan teknologi berbasis web dengan teknologi PHP, Angular JS, MySQL dan sistem keamanan di layer aplikasi. Dengan SSL (HTTPS) certificate, produk kami menjamin keamanan dan kerahasiaan data ketika melakukan transaksi.

CLOUD SERVICE BASED

Sebagai anak perusahaan Datacomm, Cloud Service kami didukung oleh pusat data, pusat operasi jaringan, dan sistem keamanan kelas dunia, serta bersertifikasi ISO 27001:2013 untuk manajemen informasi keamanan.

METODE KERJA
PRODUK
Logo Digius

Digius adalah digital genius tes platform yang dapat membantu segala kebutuhan tes Anda secara efektif dan efisien.

Telusuri

KANTOR PUSAT

Grha Datacomm
Jalan Kapten Tendean, No. 18 A
Jakarta 12790
+6221 2997 9797

DEVELOPMENT CENTER

Jalan Mampang XI, No. 62
Jakarta 12790
+6221 2279 3320
E. hrd@conexus.co.id
E. info@conexus.co.id

HUBUNGI KAMI

BLOG

Tes Kecerdasan Sosial Kandidat dengan Pertanyaan Berikut

Saat ini, tren perekrutan telah mengalami perubahan. Lebih dari sekadar kecerdasan intelejen (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), banyak perusahaan yang mempertimbangkan kecerdasan sosial dalam merekrut kandidat.

Perusahaan yang baik, tentu harus dapat mengoptimalkan produktivitas karyawan di tengah keragaman lingkungan dan budaya. Untuk itu, pada proses merekrut kandidat, kecerdasan sosial bisa jadi pertimbangan penting dalam memastikan budaya kerja yang telah berjalan semakin dinamis dan produktif.

Ada lima pertanyaan yang bisa Anda ajukan untuk mengukur kecerdasan sosial kandidat.

Bagaimana Anda Berhasil Bekerja Secara Cross-Fungsional dengan Tim Lain?

Menurut survei, hanya 55 persen kandidat yang berhasil berkolaborasi secara efektif dan efisien dengan lintas departemen. Untuk melakukan itu, diperlukan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi yang baik. Maka, jawaban kandidat pada pertanyaan ini sangat menentukan kecerdasan sosialnya. Kandidat yang baik akan menunjukkan bahwa ia menikmati bekerja dengan beragam orang melalui jawabannya. Bahkan, ia juga berusaha melakukan pendekatan berbeda dalam menyelesaikan pekerjaan yang beririsan dengan banyak orang.

Bagaimana Cara Anda Berhasil Beradaptasi dengan Lingkungan Baru? 

Seorang yang memiliki kecerdasan sosial tentu saja dapat melakukan berbagai hal untuk mengakomodir kebutuhan orang lain. Ia bahkan rela mengubah aspek fisik, emosional, atau mental dalam berinteraksi dengan orang dari kebudayaan lain. Misalnya, ia memilih membungkuk dari pada berjabat tangan saat bertemu orang Jepang. 

Pernahkah Anda Memiliki Persepsi Budaya Berbeda yang Terbukti Salah? 

Pertanyaan ini akan menguji seberapa besar kecerdasan sosial seseorang. Mereka yang memiliki kecerdasan sosial yang baik, akan mengingat kesalahannya dan tertawa seolah menganggap itu sebagai pengalaman lucu. Sedangkan mereka yang memiliki kecerdasan sosial rendah akan defensif dan cenderung kasar pada pertanyaan ini. 

Ceritakan Tentang Latar Belakang Budaya Anda 

Dengan meminta kandidat menceritakan latar belakang budayanya, Anda bisa sekaligus bertanya pendapatnya mengenai, apakah latar belakang budaya kandidat membuatnya kesulitan berkembang atau tidak. Jika ia bisa relaks dalam bercerita, artinya ia terbuka dan menyadari bahwa seseorang memerlukan adaptasi untuk berkembang.

Baca

Inilah Kombinasi Warna yang Tepat untuk Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Kantor ideal harusnya bisa menjadi ‘rumah kedua’ bagi karyawan. Tak heran, banyak perusahaan sekarang mempersiapkan kantornya sedemikian rupa guna membuat karyawan betah dan produktif.

Pemilihan warna tidak bisa dipisahkan dari dekorasi. Secara psikologis, pemilihan warna bukanlah persoalan kenyamanan visual dan estetika semata, melainkan sangat berdampak pada pembangunan suasana kantor. Berikut pengaruh warna dalam membangun suasana kantor.

Lebih Energik dengan Merah dan Oranye

Elizabeth Brown, pendiri EB Color Consulting yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat, mengatakan, warna merah dan oranye dapat menciptakan suasana energik. Namun, ia menambahkan, jangan terlalu banyak memasukkan warna merah sebab bisa memicu agresi dan stres.

Leslie Harrington, Exevutive Director sebuah perusahaan konsultan warna di Amerika, lebih jauh menjelaskan, sebaiknya warna merah ditempatkan di ruang-ruang di mana karyawan menghabiskan sedikit waktu. Misalnya, kamar mandi, dapur, atau tempat di mana karyawan tidak bekerja.

Beri Rasa Bahagia dengan Kuning

Secara psikologis, warna kuning bisa menciptakan rasa bahagia. Namun, menempatkan warna kuning di seluruh ruangan dan dekorasi justru akan merusak mood seseorang. Secara psikologis, warna kuning berkaitan erat dengan rasa percaya diri dan keceriaan. Maka, sebaiknya warna ini diterapkan di furnitur kantor seperti, misalnya, kursi. Dan, menurut saran Mark Woodman, Ketua Color Marketing Group, pilih warna kelam, seperti biru muda sebagai kombinasi warna kuning.

Tingkatkan Kreativitas dengan Biru dan Hijau

Warna alam, seperti hijau dan biru, akan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi, jika Anda menempatkan warna hijau alami seperti pada tanaman. Bahkan Personality and Social Psychology Bulletin, pada 2012, melakukan penelitan terhadap dampak warna hijau. Hasilnya, peserta yang biasa melihat warna hijau menunjukkan kreativitas dan produktivitas yang lebih dibandingkan mereka yang tidak.

Redakan Stres dengan Warna Pastel

Warna-warna muda ini sebaiknya ambil bagian pada dekorasi kantor. Warna seperti peach akan memberikan ketenangan dan meredakan stress karyawan. Buatlah warna pastel sebagai komposisi warna dinding secara seimbang. Jangan buat terlalu banyak kontras karena itu justru akan membuat mata lelah.

Baca

Inilah Aturan Ketersediaan Toilet di Perusahaan yang Wajib HR Tahu

Sudah sepatutnya perusahaan mengakomodir kebutuhan dasar karyawannya, termasuk kesehatan dan kenyamanan dalam bekerja.

Salah satu yang penting perusahaan pikirkan adalah rasio jumlah toilet. Banyak yang HR yang tidak tahu bahwa rasio jumlah toilet ada aturannya.

PortalHR pernah menulis perihal aturan ini. Mengutip HR Manager PT Richtex Garmindo, Athanasius Sumardi, “Sudah saatnya isu (rasio jumlah toilet dengan jumlah karyawan) ini diangkat. Karena selama ini yang dipersoalkan selalu soal upah. Menurut saya jika karyawan sudah merasa comfort (nyaman) dengan tempat kerjanya, dan kesehatan mereka lebih diperhatikan, hal lain bisa dibicarakan dengan kepala yang lebih dingin,” tuturnya.

Menurut Athanasius, jumlah toilet sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. Bayangkan, berapa banyak waktu terbuang ketika karyawan mengantre untuk ke toilet.

Selain itu, menahan kebutuhan ke toilet lantaran malas antre atau toilet jorok akan menimbulkan masalah kesehatan.

“Karena menahan hasrat untuk ke toilet bisa berdampak pada kesehatan, yaitu menyebabkan sembelit, sakit ginjal, dan sebagainya. Lalu kaitannya dengan HAM, bahwa karyawan harus memperoleh fasilitas yang layak untuk kesehatannya,” paparnya.

Rasio jumlah toilet dan karyawan harus benar-benar dipikirkan. Yuwono Wadiasta, HR Corporate Manager PT Mega International Corporation, mengatakan, perusahaan minimal harus menyediakan toilet dengan perbandingan 1:15.

Pada dasarnya, soal toilet sudah diatur pada Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat Kerja.

Aturan dijelaskan pada pasal 6 yang di tiap butir  ayatnya berbunyi, (1) Kakus-kakus yang terbuat dari bahan yang kuat harus disediakan untuk kaum buruh. (2) Kakus-kakus tersebut harus terpisah untuk laki-laki dan perempuan sehingga tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesusilaan. (3) Kakus-kakus itu tidak boleh berhubungan langsung dengan tempat kerja dan letaknya harus dinyatakan dengan jelas. (4) Kakus-kakus itu selalu dibersihkan oleh pegawai-pegawai tertentu. (5) Kakus-kakus harus mendapat penerangan yang cukup dan pertukaran udara yang baik. Kemudian pada ayat (6) Jumlah kakus adalah sebagai berikut: untuk 1 – 15 orang buruh = 1 kakus, 16 – 30 = 2 kakus, 31 – 45 = 3 kakus, 46 – 60 = 4 kakus, 61 – 80 = 5 kakus, 61 – 100 = 6 kakus dan untuk selanjutnya untuk tiap 100 orang buruh harus disediakan minimal enam kakus.

Athanasius melanjutkan, regulasi tersebut masih sering diabaikan perusahaan. Ia berpendapat, hanya beberapa perusahaan tertentu saja yang menerapkannya. Misalnya perusahaan asing.

“Meskipun tidak 100 % sesuai dengan persyaratan undang-undang, itu pun karena semata-mata untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh pihak auditor dari buyer, dan bukan karena kesadaran dan kepedulian dari pihak perusahaan terhadap karyawannya,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Athanasius, kendala perusahaan belum menerapkan aturan ini adalah karena ketersediaan lahan, biaya perawatan dan pemeliharaan, dan lain-lain. Bahkan di sebuah pabrik, ia pernah menemukan jumlah toilet dengan rasio 1:40.

Baca