SAATNYA TERKONEKSI DENGAN BISNIS MASA DEPAN

Selamat datang di Conexus Solusi.

Kami akan membantu Anda menjalankan bisnis secara efektif dan efisien melalui digital platform solution berbasis cloud.

. Telusuri

conexus/’conex-us/

Anda, bisnis Anda, dan kami, akan selalu terkoneksi dalam solusi yang melibatkan gagasan, kreativitas, keinginan, harapan, dan impian untuk menciptakan masa depan bisnis terbaik sejak hari ini. Kita akan selalu terkoneksi, sebab kami Conexus Solusi.
. Telusuri
MENGAPA CONEXUS

BERPENGALAMAN

Anda akan bekerja sama dengan tim yang memiliki pengalaman beragam, semangat berinovasi, berkompetensi, serta berdedikasi dalam menciptakan solusi terbaik bagi kebutuhan Anda

KONSULTAN TERPERCAYA

Kami menggunakan teknologi berbasis web dengan teknologi PHP, Angular JS, MySQL dan sistem keamanan di layer aplikasi. Dengan SSL (HTTPS) certificate, produk kami menjamin keamanan dan kerahasiaan data ketika melakukan transaksi.

CLOUD SERVICE BASED

Sebagai anak perusahaan Datacomm, Cloud Service kami didukung oleh pusat data, pusat operasi jaringan, dan sistem keamanan kelas dunia, serta bersertifikasi ISO 27001:2013 untuk manajemen informasi keamanan.

METODE KERJA
PRODUK
Logo Digius

Digius adalah digital genius tes platform yang dapat membantu segala kebutuhan tes Anda secara efektif dan efisien.

Telusuri

KANTOR PUSAT

Grha Datacomm
Jalan Kapten Tendean, No. 18 A
Jakarta 12790
+6221 2997 9797

DEVELOPMENT CENTER

Jalan Mampang XI, No. 62
Jakarta 12790
+6221 2279 3320
E. hrd@conexus.co.id
E. info@conexus.co.id

HUBUNGI KAMI

BLOG

Startup Harus Pertimbangkan 5 Hal Ini Saat Memilih Kantor

Tren pertumbuhan startup semakin marak di dunia. Bahkan, menurut laporan startup ranking, Indonesia menempati posisi kelima dalam pertumbuhan startup. Tercatat, Indonesia memiliki sekitar 1.705 startup, itu artinya Indonesia berada urutan keempat di bawah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713, dan Inggris 2.971.

Indonesia memiliki jumlah startup yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Misalnya, Singapura 508, Filipina 193, Malaysia 144, Thailand 81, Vietnam 73.

Kabar baik berikutnya, ada tujuh startup yang sudah berstatus unicorn, yakni startup yang memiliki nilai valuasi US$ 1 miliar.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah perusahaan, termasuk startup adalah pilihan kantor. Faktanya, menurut hasil sejumlah riset, kantor sangat berpengaruh terhadap produktvitas karyawan. Namun, setiap startup juga mesti memiliki pertimbangan dalam memilih kantor agar mendapatkan kantor yang ideal. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada 5 pertimbangan yang bisa diambil sebagai berikut:

Anggaran

Tentu saja, setiap startup selalu ingin mengacu pada Google dalam memilih kantor. Hanya saja, pilihan yang tidak mempertimbangkan anggaran justru akan membuat perusahaan gulung tikar. Jangan tergoda membeli atau menyewa kantor mewah, sebab tentu saja, di luar biaya property, masih ada biaya renovasi dan pemeliharaan yang mesti dikeluarkan. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan agen properti dalam memilih kantor.

Analisis Pertumbuhan Perusahaan

Ketika perusahaan mulai tumbuh, jangan dulu gegabah berpindah kantor yang lebih besar. Analisis secara teliti tim mana saja yang akan mengalami pertumbuhan pesat. Jadi, jauh lebih baik memilih kantor sesuai kebutuhan. Artinya, jangan pilih kantor yang terlalu besar atau bahkan yang terlalu kecil.

Lokasi Strategis

Lokasi strategis bukan berarti artinya berada di tengah kota. Lokasi strategis dipengaruhi oleh letak atau jarak dengan kantor klien serta jarak dengan domisili rata-rata karyawan. Faktanya, salah satu faktor alasan karyawan mengundurkan diri adalah lokasi tempat kerjanya. Maka, buatlah pilihan bijak ketika memutuskan pindah kantor dengan lebih dulu berkonsultasi kepada karyawan.

Akses Fasilitas

Pastikan kantor Anda berlokasi tidak jauh dari fasilitas yang dibutuhkan oleh karyawan. Misalnya, dekat dengan rumah sakit, bank, transportasi, tempat ibadah, dan lain-lain. Bayangkan, jika seorang karyawan membutuhkan aktivitas perbankan di bank dan lokasinya sangat jauh, tentu hal itu akan terpaksa mengurangi jam produktifnya.

Office Branding

Sebagai perusahaan yang tengah bertumbuh, tentu sangat penting untuk membangun reputasi di mata klien. Dan, pembangunan reputasi ini mesti sejalan dengan arah bisnis perusahaan. Misalnya, perusahaan agensi periklanan mesti mendekorasi kantornya jauh dari kesan kaku sebab klien yang datang ke sana pasti membutuhkan solusi kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.

Baca

Alasan Kenapa Generasi Milenial Malas Bekerja di Kantor

Pada 2020, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi berupa peningkatan kelompok kerja produktif yang didominasi generasi milenial. Maka, penting bagi perusahaan untuk memahami generasi ini untuk memenangkan persaingan mendapatkan kandidat.

Generasi milenial adalah mereka yang saat ini rata-rata berusia sekitar 21-29 tahun. Mereka adalah anak-anak muda yang akrab dengan teknologi komunikasi instan, seperti SMS, email, dan media sosial.

Interaksi sosial yang tanpa batas melalui internet, membuat generasi ini lebih berani berbicara daripada generasi sebelumnya. Mereka fleksibel, serta tidak berorientasi materi. Yang terpenting bagi mereka adalah solidaritas, kebersamaan, eksistensi, dan fasilitas.

Namun, generasi milenial memiliki kecenderungan malas bekerja di kantor. Berikut alasan mengapa generasi milenial malas bekerja di kantor.

Mereka Menganggap Sistem Kerja Tradisional Tidak Menarik

Sistem kerja yang dominan saat ini menuntut karyawan untuk bekerja minimal 8 jam selama lima hari di kantor. Selain itu, keterlambatan atau ketidakhadiran tentu saja membawa dampak pemotongan uang kehadiran. Bagi generasi milenial, sistem kerja usang seperti itu sangat tidak menarik. Belum lagi, mereka dituntut untuk berseragam dan tidak bisa mengekspresikan gaya masing-masing. Bagi generasi milenial, sesuatu yang tidak substansial dan efisien tidak terlalu penting untuk dilakukan. Itulah kenapa banyak perusahaan startup, saat ini, memberikan aturan fleksibel khususnya dari segi kehadiran dan gaya berpakaian. Mereka menyadari bahwa lebih penting melihat produktivitas dibanding aturan-aturan yang menghambat performa karyawan.

banner_artikel

Mereka Fokus pada Passion Dibandingkan Uang

Bagi generasi milenial, uang bukanlah segalanya. Dalam mencari pekerjaan, misalnya, mereka juga mempertimbangkan passion serta bagaimana perusahaan bisa membuat mereka berkembang. Tak heran, mereka lebih suka pada perusahaan yang memiliki budaya dinamis. Apalagi, jika perusahaan tersebut memiliki ruang kantor yang bagus dan bisa dipamerkan di media sosial.

Mereka Mementingkan Work-Life Balance

Generasi milenial menganggap pekerjaan bukanlah segalanya. Hal ini disebabkan mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan berinteraksi bersama teman, keluarga, atau melakukan hobi. Bagi mereka, kualitas hidup dan pekerjaan harus sama baiknya. Tak heran, mereka lebih tertarik membangun bisnis sendiri atau bekerja di bidang lifestyle.

Mereka Menginginkan Ruang Bebas

Dengan akses informasi yang luas, pikiran milenial jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka bukan tipe orang yang hanya mengangguk apabila mendapatkan perintah. Bagi mereka, mesti ada alasan yang jelas dalam melakukan sesuatu sehingga bisa memicu semangat mereka. Sifat kritis inilah yang membuat mereka membutuhkan ruang bebas yang tidak terikat pada perintah atasan.

Baca

Alasan Kenapa Generasi Milenial Malas Bekerja di Kantor

Pada 2020, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi berupa peningkatan kelompok kerja produktif yang didominasi generasi milenial. Maka, penting bagi perusahaan untuk memahami generasi ini untuk memenangkan persaingan mendapatkan kandidat.

Generasi milenial adalah mereka yang saat ini rata-rata berusia sekitar 21-29 tahun. Mereka adalah anak-anak muda yang akrab dengan teknologi komunikasi instan, seperti SMS, email, dan media sosial.

Interaksi sosial yang tanpa batas melalui internet, membuat generasi ini lebih berani berbicara daripada generasi sebelumnya. Mereka fleksibel, serta tidak berorientasi materi. Yang terpenting bagi mereka adalah solidaritas, kebersamaan, eksistensi, dan fasilitas.

Namun, generasi milenial memiliki kecenderungan malas bekerja di kantor. Berikut alasan mengapa generasi milenial malas bekerja di kantor.

Mereka Menganggap Sistem Kerja Tradisional Tidak Menarik

Sistem kerja yang dominan saat ini menuntut karyawan untuk bekerja minimal 8 jam selama lima hari di kantor. Selain itu, keterlambatan atau ketidakhadiran tentu saja membawa dampak pemotongan uang kehadiran. Bagi generasi milenial, sistem kerja usang seperti itu sangat tidak menarik. Belum lagi, mereka dituntut untuk berseragam dan tidak bisa mengekspresikan gaya masing-masing. Bagi generasi milenial, sesuatu yang tidak substansial dan efisien tidak terlalu penting untuk dilakukan. Itulah kenapa banyak perusahaan startup, saat ini, memberikan aturan fleksibel khususnya dari segi kehadiran dan gaya berpakaian. Mereka menyadari bahwa lebih penting melihat produktivitas dibanding aturan-aturan yang menghambat performa karyawan.

Mereka Fokus pada Passion Dibandingkan Uang

Bagi generasi milenial, uang bukanlah segalanya. Dalam mencari pekerjaan, misalnya, mereka juga mempertimbangkan passion serta bagaimana perusahaan bisa membuat mereka berkembang. Tak heran, mereka lebih suka pada perusahaan yang memiliki budaya dinamis. Apalagi, jika perusahaan tersebut memiliki ruang kantor yang bagus dan bisa dipamerkan di media sosial.

Mereka Mementingkan Work-Life Balance

Generasi milenial menganggap pekerjaan bukanlah segalanya. Hal ini disebabkan mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan berinteraksi bersama teman, keluarga, atau melakukan hobi. Bagi mereka, kualitas hidup dan pekerjaan harus sama baiknya. Tak heran, mereka lebih tertarik membangun bisnis sendiri atau bekerja di bidang lifestyle.

Mereka Menginginkan Ruang Bebas

Dengan akses informasi yang luas, pikiran milenial jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka bukan tipe orang yang hanya mengangguk apabila mendapatkan perintah. Bagi mereka, mesti ada alasan yang jelas dalam melakukan sesuatu sehingga bisa memicu semangat mereka. Sifat kritis inilah yang membuat mereka membutuhkan ruang bebas yang tidak terikat pada perintah atasan.

Baca