SAATNYA TERKONEKSI DENGAN BISNIS MASA DEPAN

Selamat datang di Conexus Solusi. Kami akan membantu Anda menjalankan bisnis secara efektif dan efisien melalui digital platform solution berbasis cloud.

. Telusuri

conexus/’conex-us/

Anda, bisnis Anda, dan kami, akan selalu terkoneksi dalam solusi yang melibatkan gagasan, kreativitas, keinginan, harapan, dan impian untuk menciptakan masa depan bisnis terbaik sejak hari ini. Kita akan selalu terkoneksi, sebab kami Conexus Solusi.
. Telusuri
MENGAPA CONEXUS

BERPENGALAMAN

Pengalaman panjang, dedikasi, dan totalitas adalah yang akan Anda dapatkan dari kami. Kami adalah teman perjalanan tepat dalam mencapai tujuan hebat.

KONSULTAN TERPERCAYA

Dapatkan pengalaman tak terlupakan melalui tim kami yang terpercaya, profesional, andal, dan sanggup bekerja optimal dalam mewujudkan gagasan Anda.

CLOUD SERVICE BASED

Dengan sistem cloud, dapatkan kemudahan dalam penggunaan produk dan layanan kami. Lupakan kendala jarak, ruang, dan waktu. Jangan biarkan kesuksesan bisnis Anda menunggu.

METODE KERJA
PRODUK
Logo Digius

Digius adalah digital genius tes platform yang dapat membantu segala kebutuhan tes anda secara efektif dan efisien.

Telusuri

KANTOR PUSAT

Grha Datacomm
Jalan Kapten Tendean, No. 18 A
Jakarta 12790
+6221 2997 9797

DEVELOPMENT CENTER

Jalan Mampang XI, No. 62
Jakarta 12790
+6221 2279 3320
E. sales@conexus.co.id
E. info@conexus.co.id

HUBUNGI KAMI

BLOG

Kerja Sedikit Namun Hasil Maksimal dengan Prinsip Esensialisme

Setiap orang tentu mengharapkan dapat lebih santai dalam bekerja, tetapi tetap mendapatkan hasil maksimal. Namun, kehidupan di era ini justru para pekerja dituntut semakin multitasking dengan beban kerja yang semakin berat.

Pada dasarnya, setiap orang tidak bisa menjadi ahli dalam semua bidang. Karena memiliki dan mengerjakan terlalu banyak hal justru membuat seseorang tidak bahagia.

Prinsip esensialisme sangat dibutuhkan bagi Anda yang kerja sedikit namun menginginkan hasil maksimal. Prinsip ini memandang bahwa manusia dapat mencapai hidup bermakna dengan mengerjakan lebih sedikit hal.

Mengerjakan sedikit bukanlah bermalas-malasan. Ini adalah perkara prioritas di mana Anda bisa menentukan mana yang harus dikerjakan dan ditinggalkan. Menurut IDTechinAsia, setidaknya ada empat pilar utama pada prinsip esensialisme, yakni kerjakan sedikit tapi dengan lebih baik, pilih sebuah bidang dan jadilah yang terbaik, terus mempertanyakan diri sendiri, dan lakukan segera lakukan perubahan.

Kebanyakan orang terbiasa menuntut dirinya untuk mengerjakan banyak hal. Beban itu justru membuat seseorang kehilangan kontrol atas hidupnya dan merasa tidak berdaya. Kebiasaan seperti ini, pada akhirnya, akan membuat seseorang tidak berani mengambil pilihan baru meskipun pilihan tersebut lebih baik.

Secara tidak sadar, seseorang yang hidupnya selalu di bawah tekanan akan berpikir bahwa menyerah itu mudah, sementara memutuskan sesuatu membutuhkan waktu dan energi.

George McKeown, dalam bukunya Essentialism: The Disciplined Pursuits of Less, mengungkapkan, prinsip utama esensialisme adalah mengerjakan sedikit tetapi lebih baik. Dalam kalimat yang lebih tegas, John Cammack, mengatakan, kunci fokus adalah berani menentukan hal yang tidak kamu kerjakan.

Kembali ke empat pilar utama esensialisme, yang pertama adalah Anda harus menemukan hal yang tidak perlu Anda kerjakan, kemudian kerjakan hal yang Anda pilih dengan sebaik-baiknya. Kedua, daripada mempelajari sesuatu sedikit demi sedikit, jauh lebih baik fokus menjadi yang terhebat di satu bidang. Ketiga, teruslah bertanya pada diri sendiri, apakah yang Anda anggap penting benar-benar penting. Keempat, ketika Anda yakin ada yang mesti Anda buang dalam hidup, jangan ragu melakukan itu.

Setelah berani melakukan empat hal tersebut, Anda juga perlu meluangkan diri beristirahat. Ingat, pada era ini, internet dan ponsel membuat Anda tidak pernah mempunyai waktu luang. Ketika dalam kondisi tidak ada pekerjaan, Anda justru menghabiskannya dengan membuka internet atau melakukan hal yang non-esensial. Padahal, waktu tersebut sangat berharga untuk dimanfaatkan untuk beristirahat.

Baca

Yuk, Lebih Objektif dalam Merekrut Kandidat

Karyawan adalah roda penggerak perusahaan. Tak heran, menurut Harvard Business Review, 80 persen pergantian karyawan disebabkan oleh kesalahan merekrut kandidat (bad hiring).

Bad hiring merupakan kesalahan fatal yang mesti dihindari oleh setiap perusahaan. Tahukah Anda, karyawan yang buruk dapat mengakibatkan peningkatan biaya pelatihan hingga 37 persen.

Objektivitas merekrut kandidat memiliki peranan penting dalam mendapatkan kandidat berkualitas. Tetapi, sayangnya pada proses wawancara, sering kali terjadi bias. Memang, wawancara merupakan proses komunikasi personal, sehingga akan selalu ada unsur subjektif dalam prosesnya. Namun, tentu saja hal tersebut bisa diminimalisir dengan cara berikut.

Kendalikan Mood Anda

Seringkali, mood merupakan masalah utama bias dalam wawancara. Namun, saat Anda tengah dalam posisi sebagai pewawancara, Anda harus bisa mengendalikan sisi emosional Anda. Apabila Anda tengah mengalami hal yang buruk, maka Anda harus mengambil jeda sebentar dan melupakan masalah Anda. Apabila Anda dikendalikan oleh mood, maka kemungkinan besar Anda akan kehilangan karyawan terbaik dan memilih karyawan yang tidak berkualitas.

Lupakan Rasa Kesamaan

Tak jarang Anda mendapati kandidat berlatar satu perguruan tinggi atau satu daerah dengan Anda. Biasanya, rasa kesamaan pun muncul dan obrolan pribadi pun terucap. Namun, jika dalam posisi itu, sebaiknya Anda lupakan obrolan yang bersifat pribadi dalam sesi wawancara. Fokus pada penilaian dan lakukan obrolan pribadi setelah proses wawancara selesai.

Lakukan Wawancara dengan Persiapan yang Matang

Persiapan yang matang tentu akan menghasilkan wawancara berkualitas. Untuk itu, Anda perlu menyiapkan beberapa hal, yakni daftar pertanyaan yang sama bagi setiap kandidat, catat kemampuan apa saja yang dimiliki kandidat, konsultasi dengan karyawan yang berpengalaman dalam posisi itu, serta cocokkan jawaban dengan job desc dan visi misi perusahaan. Selain itu, jangan pernah mengucapkan pertanyaan yang bermaksud menjebak atau mengetes karyawan.

Cobalah Membuat Kandidat Rileks

Terkadang, kondisi yang tegang akan membuat kandidat kehilangan kemampuannya dalam berkomunikasi. Padahal, kemungkinan mereka punya kemampuan yang dibutuhkan perusahaan Anda. Maka, Anda bisa menciptakan kondisi santai bagi kandidat saat proses wawancara. Cobalah untuk menanyakan apakah kandidat butuh ke kamar kecil, butuh air minum atau camilan, sehingga kandidat akan lebih rileks.

 

Baca

Tips Menghadapi Karyawan yang Sulit Diatur

Keberhasilan sebuah perusahaan tidak bertumpu pada satu individu saja. Perusahaan yang memiliki performa bagus, tentu memiliki tim yang solid dalam bekerja sama mencapai target.

Pada perusahaan startup, yang memiliki target dan penilaian ketat untuk berkembang, sering kali terjadi benturan antar karyawan. Biasanya, bentrokan terjadi karena perbedaan pendapat, latar belakang, hingga pengalaman.

Selain itu, dalam perusahaan biasanya hampir selalu ada karyawan atau sekelompok karyawan yang sulit diatur. Apabila tidak segera ditangani, maka akan berdampak konflik yang lebih besar. Namun, dalam menangani mereka, sebaiknya Anda menggunakan strategi yang tepat agar tidak mengancam stabilitas perusahaan.

Kenali Akar Masalah

Menurut IDTechinAsia, salah satu langkah yang bisa Anda ambil untuk mengatasi karyawan sulit diatur adalah mengenali akar masalah. Coba cari tahu, apa alasan karyawan tersebut sulit diajak bekerja sama, apakah karena sifatnya yang buruk, etos kerja payah, atau kemampuan yang tidak mumpuni. Yang perlu Anda pahami, masalah bisa muncul karena adanya perbedaan sudut pandang.

banner_artikel

Selalu Tenang

Mungkin, suatu kali Anda mendapatkan kritikan tajam dari seorang atau sekelompok karyawan. Namun, usahakan tetap tenang dan rasional tanpa terpancing secara emosional. Jika Anda melakukan hal ceroboh, maka itu justru akan menimbulkan kekisruhan lebih besar.

Ukur Lingkup dan Dampak

Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya Anda mengukur lingkup dan dampak dari masalah yang ada. Apabila lingkup dan dampak dari sikap karyawan tersebut berada pada taraf membahayakan, segera ambil keputusan tegas. Tetapi, jika dampaknya tidak berarti, maka Anda bisa melakukan komunikasi yang lebih intens untuk menyelesaikan masalah.

Dengarkan Pendapat Karyawan Lain

Apabila Anda sulit mengambil keputusan, maka mendengarkan karyawan lain adalah pilihan bijak. Dari mereka, Anda bisa menilai seberapa besar masalah akan mempengaruhi performa perusahaan. Namun, sebaiknya Anda bersikap netral dan tidak mengarahkan pada suatu pendapat, sehingga jawaban yang Anda dapatkan akan lebih objektif.

Usahakan Anda memilah pertanyaan dengan hati-hati, sehingga karyawan tidak menyimpulkan sesuatu yang negatif terhadap objek yang dibicarakan. Bayangkan, apabila karyawan ‘bermasalah’ itu tetap di kantor dengan kondisi rekan lain tidak menyukainya, maka akan berdampak pada menurunnya kinerja tim Anda.

Baca